Rupiah Dibuka di Rp16.870/USD Rabu Pagi

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Eko Nordiansyah

Rupiah Dibuka di Rp16.870/USD Rabu Pagi

Eko Nordiansyah • 18 February 2026 09:17

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tak berdaya saat dolar AS mendapatkan sentimen penguatan jelang data ekonomi dalam negerinya.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 18 Februari 2026, rupiah berada di level Rp16.870 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 33 poin atau setara 0,20 persen dari Rp16.837 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.839 per USD. Mata uang Garuda masih bergerak datar dibandingkan pada perdagangan sebelumnya.

Baca Juga :

 

Harga Minyak Dunia Turun Lagi


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
 

Dolar AS menguat

Dolar AS menguat pada Selasa, 17 Februari 20256, menjelang rilis data penting lainnya karena investor kembali dari libur panjang akhir pekan. Sementara itu, poundsterling dan dolar Kanada menjadi sorotan setelah data ekonomi dirilis.

Dilansir dari Investing.com, Rabu, 18 Februari 2026, indeks dolar, yang melacak nilai dolar AS terhadap enam mata uang lainnya, diperdagangkan 0,3 persen lebih tinggi menjadi 97,24, setelah kenaikan 0,2 persen pada sesi sebelumnya.

Sebagian besar Asia, termasuk Tiongkok, tetap tutup karena libur, sementara AS telah kembali dari perayaan ulang tahun George Washington.

Di Eropa, GBP/USD turun 0,7 persen menjadi 1,3545, dengan sterling terpukul setelah rilis data yang menunjukkan pelemahan lebih lanjut di pasar tenaga kerja Inggris. 

Sementara itu, EUR/USD diperdagangkan 0,1 persen lebih rendah menjadi 1,1842, menjelang rilis indeks sentimen ekonomi ZEW Jerman terbaru, yang diperkirakan akan menunjukkan peningkatan lebih lanjut dalam kepercayaan terhadap ekonomi terbesar di Zona Euro.

Di Asia, USD/JPY sedikit berubah pada 153,37, dengan yen Jepang sedikit pulih dari kerugian tajam pada sesi sebelumnya setelah data produk domestik bruto (PDB) jauh lebih lemah dari yang diperkirakan untuk kuartal keempat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)