Ilustrasi. Foto: Xinhua/Liu Yanan.
Wall Street Tertekan Serangan AS ke Iran, Nasdaq Paling Boncos
Husen Miftahudin • 2 September 2026 07:52
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada Selasa waktu setempat setelah gelombang baru serangan militer AS terhadap Iran mendorong harga minyak mentah melonjak. Kenaikan harga energi turut meningkatkan tekanan di pasar obligasi akibat kekhawatiran terhadap inflasi.
Mengutip Xinhua, Rabu, 2 September 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 419,02 poin atau 0,79 persen menjadi 52.766,88. S&P 500 melemah 54,67 poin atau 0,71 persen menjadi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite turun 271,12 poin atau 1,03 persen menjadi 26.099,77.
Sebanyak tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor barang konsumsi non-esensial dan industri mencatat penurunan terbesar, masing-masing 1,89 persen dan 1,39 persen. Sebaliknya, sektor energi menguat 1,54 persen dan utilitas naik 0,85 persen.
Adapun, pasar energi global bergerak naik tajam setelah serangan udara terbaru AS terhadap sejumlah target di Iran. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik USD4,46 atau 5,2 persen menjadi USD90,22 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik USD4,16 atau 4,6 persen menjadi USD94,65 per barel di London ICE Futures Exchange.
Lonjakan harga minyak turut meningkatkan tekanan di pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) Treasury AS bertenor 10 tahun naik menjadi 4,79 persen dan sempat menyentuh level intraday tertinggi sejak Januari 2025.
Yield obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun juga naik menjadi 5,26 persen, mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade.
Lowongan pekerjaan di AS meningkat
Dari sisi ekonomi domestik, data Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS sedikit meningkat pada Juli. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja masih relatif stabil.
Sementara itu, Institute for Supply Management (ISM) melaporkan aktivitas manufaktur AS mengalami ekspansi selama delapan bulan berturut-turut pada Agustus. Namun, laju ekspansi sedikit melambat.
Kepala Ekonom Internasional ING James Knightley menilai data manufaktur yang kuat meningkatkan keyakinan terhadap keberlanjutan pemulihan sektor tersebut.
"Indeks manufaktur ISM yang kuat lainnya meningkatkan kepercayaan pada keberlanjutan pemulihan di sektor ini, yang didorong oleh lonjakan belanja modal terkait teknologi yang berkelanjutan," ujar Knightley.
Namun, dia menilai penciptaan lapangan kerja masih terbatas dengan tekanan upah yang relatif rendah.

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Perdagangan AS-Kanada
Di sektor perdagangan, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan kesepakatan bilateral yang saling menguntungkan dengan AS masih dapat dicapai.
Namun, Carney menyebut pembahasan formal belum dapat dilanjutkan di tengah pernyataan publik pejabat AS yang menyasar Kanada.
Saham teknologi tertekan
Dari sisi korporasi, saham Palo Alto Networks dan Dell Technologies masing-masing merosot 5,24 persen dan 6,8 persen menjelang publikasi laporan keuangan kuartalan setelah perdagangan berakhir.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati laporan keuangan Broadcom yang dijadwalkan terbit pada Rabu.
Selain itu, laporan ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang akan dirilis Departemen Tenaga Kerja pada Jumat menjadi salah satu data ekonomi utama yang dinantikan investor pekan ini.
Pergerakan pasar saham AS selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan konflik AS-Iran, arah harga energi, pergerakan imbal hasil Treasury, serta sejumlah indikator ekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian dan pasar tenaga kerja AS.