Wall Street Ditutup Melemah, Sejumlah Faktor Jadi Pemicunya

Ilustrasi Wall Street. Foto: Xinhua

Wall Street Ditutup Melemah, Sejumlah Faktor Jadi Pemicunya

Eko Nordiansyah • 1 September 2026 07:23

New York: Wall Street ditutup lebih rendah pada Senin, 31 Agustus 2026, seiring lonjakan harga minyak setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan militer untuk pertama kalinya sejak bulan Juli.

Aksi jual obligasi Treasury AS, khususnya untuk tenor jangka panjang, juga membebani sentimen pasar di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan September, menyusul pidato bernada hawkish dari Ketua Kevin Warsh dalam konferensi Jackson Hole.

Meski demikian, saham-saham AS menutup bulan Agustus dengan kenaikan, sekaligus mengakhiri tren penurunan selama dua bulan berturut-turut. Musim laporan keuangan yang solid dan berakhirnya gejolak pada perdagangan sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence) mendorong kenaikan tersebut, walaupun lajunya tertahan oleh konflik Timur Tengah yang masih berlangsung serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Dikutip dari Investing, Selasa, 1 September 2026, indeks acuan S&P 500 turun 0,3 persen dan berakhir di level 7.685,42 poin, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,1 persen menjadi 26.370,89 poin, dan indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,7 persen ke posisi 53.186,32 poin.

Ketegangan di Timur Tengah berlanjut

Menjelang akhir pekan lalu, situasi di Timur Tengah berada dalam jalan buntu saat AS dan Iran berselisih mengenai Selat Hormuz, di mana kedua pihak secara sepihak mengklaim kendali atas jalur perairan vital tersebut.

Upaya para mediator kawasan untuk membawa kedua belah pihak ke meja perundingan sebagian besar tidak membuahkan hasil, sementara pihak-pihak yang bertikai terus saling melontarkan retorika keras. Strategi Presiden Donald Trump belakangan ini tampaknya berfokus pada penekanan ekonomi terhadap Iran.

Namun, pada Minggu malam, Komando Pusat AS menyatakan telah melakukan "tindakan terbatas dan presisi" terhadap pasukan penebar ranjau dari Korps Garda Revolusi Islam yang dianggap "menimbulkan ancaman nyata dan mendesak" di selat tersebut. Langkah ini diambil hanya beberapa hari setelah Trump menyatakan bahwa jalur pelayaran vital tersebut telah dibersihkan dari semua ranjau.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa AS telah menyerang sebagian wilayah Pulau Larak, dan sebagai tanggapan, Teheran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS yang berlokasi di Yordania. Secara terpisah, menurut media pemerintah Yordania, negara tersebut berhasil mencegat dan menghancurkan delapan rudal.
(Ilustrasi. Foto: iStock)

Sikap hawkish Warsh menjadi sorotan

Di luar isu Timur Tengah, suku bunga AS dan pasar obligasi tetap menjadi pusat perhatian. Pidato utama Ketua The Fed, Kevin Warsh, secara luas dinilai bernada hawkish. Warsh menyatakan bahwa tren inflasi inti di AS belum menunjukkan perbaikan yang berarti dan menegaskan kembali bahwa fokus bank sentral haruslah pada pencapaian stabilitas harga.

Para pedagang merespons komentar Warsh dengan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September. Menurut perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan tersebut kini mencapai hampir 64 persen, naik dari 57 persen sehari sebelumnya.

Investor juga melepas surat utang pemerintah AS setelah pidato tersebut, yang menyebabkan imbal hasil (yield) Treasury naik. Tren ini berlanjut hingga hari Senin, di mana imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 3,5 basis poin menjadi 4,757 persen, level tertinggi sejak pertengahan Januari 2025.

Para pengamat kebijakan moneter kini akan mencermati serangkaian data pasar tenaga kerja sepanjang pekan ini. Data lowongan kerja AS untuk bulan Juli akan dirilis, diikuti oleh pembaruan data ketenagakerjaan sektor swasta dari ADP, dan agenda utamanya adalah laporan nonfarm payrolls AS Agustus.

Risiko membayangi Wall Street di September

Beralih ke kinerja bulanan saham AS, indeks acuan S&P naik 2,6 persen, sementara Nasdaq naik 3,9 persen dan Dow naik 1,3 persen. Musim laporan keuangan yang kuat menjadi pendorong utama sentimen pasar, ditambah dengan kembalinya stabilitas pada tren investasi kecerdasan buatan (AI).

Lonjakan luar biasa pada saham-saham perusahaan cip selama April, Mei, dan Juni membantu Wall Street bangkit dari dampak konflik Timur Tengah dan kembali ke rekor tertinggi.

Namun, kondisi itu berbalik menjadi penurunan tajam di Juli akibat kekhawatiran mengenai ketidakpastian imbal hasil atas investasi miliaran dolar yang digelontorkan perusahaan-perusahaan raksasa (mega-cap) untuk infrastruktur AI. Untuk Agustus, Indeks Semikonduktor Philadelphia mencatat kenaikan dua persen.

Meski demikian, pelaku pasar kemungkinan akan bersikap hati-hati menjelang bulan September, mengingat secara historis bulan ini merupakan bulan terburuk bagi pasar saham AS.

Melihat saham-saham yang mencuri perhatian, Apple menjadi sorotan dengan penurunan sebesar 0,9 persen. Hari Jumat menandai hari terakhir kepemimpinan CEO Tim Cook, yang akan menyerahkan tongkat estafet kepada John Ternus, sosok yang telah lama memimpin divisi perangkat keras (hardware).

Di bawah kepemimpinan Cook, pendapatan tahunan raksasa pembuat iPhone ini melonjak empat kali lipat menjadi USD416 miliar pada 2025, naik dari USD108 miliar pada tahun fiskal 2011. Ia juga memimpin peluncuran berbagai produk seperti Apple Watch dan AirPods.

Kini, tekanan tertuju pada Ternus untuk mengembangkan ambisi perangkat lunak dan AI Apple agar dapat mengimbangi dominasi perangkat kerasnya.

(Eko Nordiansyah)