Kontrak Berjangka Saham AS Naik Berkat Prospek Perdamaian Perang Iran

Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Mentarimulia.co.id

Kontrak Berjangka Saham AS Naik Berkat Prospek Perdamaian Perang Iran

Husen Miftahudin • 25 May 2026 08:01

Singapura: Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) naik pada perdagangan Senin karena prospek kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran meningkatkan selera risiko, meskipun kurangnya kejelasan tentang kapan Selat Hormuz akan dibuka.

Mengutip Investing.com, Senin, 25 Mei 2026, kontrak berjangka Nasdaq naik sebanyak 0,89 persen dan kontrak berjangka S&P naik sebanyak 0,6 persen. 

Perang yang berlangsung hampir tiga bulan di Timur Tengah telah menyebabkan harga energi melonjak dan mengubah prospek suku bunga global karena kekhawatiran akan inflasi, seiring dengan penutupan efektif selat yang dilalui sebagian besar pasokan energi dunia oleh Teheran.  

Presiden AS Donald Trump mengatakan telah memberi tahu perwakilannya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan apa pun dengan Iran, karena pemerintahannya meredam harapan akan terobosan yang akan segera terjadi. 

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan Washington dan Iran sebagian besar telah menegosiasikan nota kesepahaman tentang kesepakatan perdamaian yang akan membuka kembali jalur air tersebut, yang sebelum konflik mengangkut seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair global.
 

Baca juga: Sengketa Aset Beku dan Isu Material Nuklir Hambat Kesepakatan Akhir AS-Iran


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Harga minyak dan dolar AS tergelincir


Sementara itu, harga minyak mencapai titik terendah dalam dua minggu untuk mengawali pekan ini, dengan harga minyak mentah Brent turun lebih dari empat persen menjadi USD98,83 per barel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di USD92,03 per barel, juga turun lebih dari empat persen.

Di sisi lain, euro naik 0,37 persen menjadi USD1,1646, sementara yen Jepang menguat menjadi 158,85 per dolar AS pada perdagangan awal. Ini terjadi karena dolar sebagai aset aman, kehilangan sebagian dari kenaikan yang baru-baru ini diperolehnya. 

Kepala analis pasar di ATFX Global Nick Twidale memperkirakan pasar akan lebih banyak mengambil risiko pada Senin tetapi tidak akan melonjak lebih tinggi sampai ada konfirmasi Selat Hormuz akan dibuka kembali. 

"Kita perlu melihat kesepakatan yang terwujud dalam sesi-sesi mendatang karena kita tahu masih ada beberapa poin penting yang menjadi kendala," kata dia.

Isu terpenting bagi pasar keuangan adalah kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali, kata para ahli strategi Commonwealth Bank of Australia dalam sebuah catatan.

"Dalam kondisi seperti apa Selat akan dibuka kembali dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki fasilitas produksi dan infrastruktur guna meningkatkan produksi energi dan barang lainnya ke tingkat sebelum perang," kata mereka.

(Husen Miftahudin)