Purbaya: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.

Purbaya: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat

Richard Alkhalik • 19 May 2026 20:20

Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perekonomian Indonesia masih menunjukkan resiliensi yang tangguh di tengah eskalasi ketidakpastian global. Kinerja ekonomi nasional pada kuartal pertama 5,61 persen mengungguli negara-negara di kawasan ASEAN maupun G20.

Hal tersebut disampaikan oleh Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026. Dalam paparannya, Menkeu merinci Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menyentuh angka 5,52 persen. Menurut Purbaya, angka ini menjadi indikator kuat daya beli masyarakat Indonesia masih terjaga pada level yang tinggi.

Di samping itu, dalam paparannya konsumsi pemerintah naik hingga 21,8 persen, menjadikan instrumen kebijakan fiskal sebagai pengubah permainan atau game changer dalam memacu akselerasi ekonomi makro.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
 

Inflasi terkendali


Purbaya menyebutkan ada tiga tantangan eksternal utama yang tengah dihadapi dunia. Pertama, eskalasi konflik geopolitik yang berisiko mendisrupsi rantai pasok dan melambungkan harga energi. Kedua, dinamika kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat yang masih terus berkembang.

Terakhir, bayang-bayang kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat. Sikap tersebut ini dinilai dapat memicu aliran modal keluar (capital outflow) ke Amerika Serikat, yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu imported inflation.

Kendati dihantam tekanan eksternal, Purbaya menjelaskan inflasi nasional pada April 2026 masih terkendali di level 2,42 persen, selaras dengan rentang target Bank Indonesia. Torehan tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ketiga terendah untuk laju inflasi di bawah Tiongkok sebesar 1,2 persen dan Uni Emirat Arab pada 2,0 persen.


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: dok Kemenkeu.
   

Sinergi kebijakan


Terkait gejolak harga komoditas energi imbas ketidakpastian resolusi konflik di Timur Tengah, Purbaya menyatakan kenaikan harga komoditas ekspor unggulan justru berfungsi sebagai lindung nilai alami (natural hedge) yang menjaga postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.

Purbaya mengatakan, pemerintah ke depan berkomitmen untuk terus memperkuat sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap melaju tinggi dan berkelanjutan.

Strategi yang ditempuh adalah dengan penempatan dana pemerintah di Bank Himbara dan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Langkah tersebut dirancang untuk mendorong penurunan suku bunga deposito dan kredit perbankan. Selain itu, transmisi kebijakan menuju penyaluran kredit produktif di sektor riil akan terus diakselerasi melalui sinergi bersama Bank Indonesia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)