Ilustrasi. Foto: Freepik.
Selat Hormuz dan Ketegangan Dagang Berpotensi Memanas Lagi pada 2027
Husen Miftahudin • 22 June 2026 11:34
New York: Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai mampu memberikan dukungan jangka pendek bagi pasar saham global serta meredakan tekanan terhadap harga minyak dan imbal hasil obligasi.
Mengutip Investing.com, Senin, 22 Juni 2026, lembaga riset BCA Research menilai kesepakatan tersebut telah memperbaiki prospek pasar dalam jangka pendek, terutama dengan meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan energi dan distribusi melalui Strait of Hormuz.
Meredanya ketegangan juga diperkirakan dapat membantu menekan harga minyak, yang sebelumnya menjadi salah satu sumber tekanan inflasi global. Penurunan harga energi dinilai memberi ruang politik tambahan bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 2026, ketika tingginya harga bahan bakar dan pelemahan tingkat persetujuan publik sempat menjadi tantangan politik.
Meski demikian, BCA Research mengingatkan kesepakatan sementara ini belum dapat dianggap sebagai perdamaian permanen. Risiko implementasi masih besar, terutama karena Teheran dinilai masih memiliki kepentingan strategis untuk menunda sejumlah komitmen penting, termasuk pembukaan penuh Selat Hormuz dan perkembangan isu nuklir.
Kondisi tersebut membuat harga minyak diperkirakan tetap bertahan tinggi meski respons awal pasar cenderung positif. Saat ini, ekspektasi pasar mengarah pada harga minyak mentah di kisaran USD90 hingga USD100 per barel, bukan kembali ke level USD60 hingga USD70.
| Baca juga: Trump: Tidak Ada Tarif Tol di Selat Hormuz, Kecuali AS Memberlakukannya |
Politik AS berpotensi pengaruhi arah kebijakan
Perhatian investor juga mengarah pada dampak politik dari kesepakatan tersebut. Partai Demokrat dinilai memiliki peluang besar merebut kembali kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilu paruh waktu mendatang. Namun, persaingan di Senat diperkirakan tetap ketat.
Jika Kongres terpecah, ruang gerak Presiden AS Donald Trump dalam mendorong agenda legislasi berpotensi lebih terbatas. Situasi itu dapat meningkatkan penggunaan kebijakan eksekutif, langkah perdagangan, serta pendekatan kebijakan luar negeri sebagai instrumen utama pemerintah.
Di sektor teknologi, prospek investasi pada kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur pendukung masih dinilai kuat. Kebijakan saat ini tetap mendukung pengembangan AI, pembangunan pusat data, serta proyek energi yang terkait dengan pertumbuhan kebutuhan komputasi.
Namun, pengawasan politik terhadap sektor teknologi diperkirakan akan semakin meningkat seiring besarnya peran AI dalam perekonomian global.

(Aktivitas perdagangan internasional. Foto: Medcom.id)
Perang dagang berpotensi muncul lagi
BCA Research juga melihat kebijakan perdagangan global saat ini memasuki fase yang lebih stabil menjelang pemilu AS, didukung oleh gencatan dagang sementara antara Washington dan Beijing. Meski begitu, setelah pemilu paruh waktu, prospek tetap penuh ketidakpastian.
Para analis memperkirakan terdapat probabilitas 60 persen munculnya konflik baru yang melibatkan Iran pada akhir 2026 atau sepanjang 2027.
Selain risiko geopolitik di Timur Tengah, sengketa perdagangan global juga dinilai berpotensi kembali menjadi sumber volatilitas utama bagi pasar keuangan dunia.