Pengamat Ungkap Dampak Penurunan Perantau ke Jakarta Setelah Lebaran

Suasana arus balik Lebaran. Foto Metrotvnews.com/Roni Kurniawan

Pengamat Ungkap Dampak Penurunan Perantau ke Jakarta Setelah Lebaran

Muhamad Marup • 26 March 2026 16:28

Jakarta: Jumlah pendatang baru setelah Lebaran 2026 ke DKI Jakarta diprediksi menurun dari tahun sebelumnya. Pengamat kebijakan publik dari Universtias Trisakti, Trubus Rahadiansyah, mengungkapkan beberapa dampak yang bisa timbul atas penurunan perantau ke Jakarta, termasuk pada momen setelah lebaran.

Dia menjelaskan, dengan berkurangnya perantau memang dapat menurunkan jumlah masyarakat miskin di Jakarta. Meski demikian, kondisi tersebut juga akan memengaruhi pemasukan pajak.

"Kerugian pemasukan pajak menurun. Sebab orang dengan merantau ke sini memberikan pajak pemasukan bagi APBD," ujar Trubus, kepada Metrotvnews.com, Kamis, 26 Maret 2026.

Trubus menilai, penurunan perantau ke Jakarta merupakan hal negatif dan tidak membanggakan. Menurutnya, dengan berkurangnya perantau bisa menjadi pertimbangan investor untuk mengurungkan niat membuka lapangan pekerjaan.

"Investor ada kalau sumber daya SDM-nya melimpah. kalau SDM jakarta mahal aja, tapi melimpah enggak tidak sesuai," jelasnya.

Faktor Penyebab

Trubus menilai, terdapat dua penyebab terjadinya penurunan perantau ke Jakarta. Minimnya lapangan pekerjaan menjadi penyebab utama.

"Penyebab pertama itu minimnya lapangan pekerjaan. Di Jakarta sudah tidak ada Industri padat karya. Pabrik-pabrik di sekitar Jakarta juga mengalami penutupan," katanya.

Kedua, lanjut dia, biaya hidup yang tinggi tidak sebanding dengan pekerjaan yang tersedia. Menurutnya, saat ini Jakarta tidak ramah pendatang sebab biaya hidup tinggi terutama untuk sewa tempat tinggal.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat para perantau berpikir dua kali untuk datang ke Jakarta. Mereka cenderung lebih memilih daerah lain dengan daya tawar yang sesuai.

"Perantau di Daerah lain meningkat kalau daerah itu mampu menawarkan daya hidup yang sesuai. Sebagai contoh, kota-kota yang masih rendah seperti Yogyakarta dan Semarang," ucapnya.

Trubus mendorong, Pemprov DKI Jakarta untuk membuka lapangan pekerjaan. Menurutnya, hal tersebut penting untuk menciptakan iklim ketenegakerjaan yang kondusif di Jakarta.


Pengamat kebijakan publik dari Universtias Trisakti, Trubus Rahadiansyah. Foto Metrotvnews.com

"Biaya hidup itu bisa diatasi dengan lapangan pekerja. Kalau tidak ada lapangan pekerjaan ya susah. Lapangan pekerjaannya ada itu bisa menyelesaikan pemenuhan kebutuhan seperti makan dan tempat tinggal," tuturnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan agar para pendatang baru bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. Imbauan ini bertujuan agar mereka dapat berkontribusi positif serta memperoleh pekerjaan yang tepat.

"Kami meminta bagi siapapun yang ingin bekerja di Jakarta tentunya melengkapi diri dari semua syarat-syarat administrasi dan kemudian juga bekerja sesuai dengan kapabilitasnya," terangnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)