Ilustrasi ORI. Foto: dok. DJKN
Tokoh-tokoh di Balik Lahirnya Oeang Republik Indonesia
Gabriella Thesa Widiari • 17 October 2026 10:42
Jakarta: Ada kisah panjang di balik selembar uang yang setiap hari berputar dalam pusaran ekonomi kita. Dalam catatan sejarah bangsa, uang bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan dan pemersatu Indonesia yang baru saja merdeka.
Pada masa awal pascakemerdekaan, sejumlah tokoh berjuang melahirkan Oeang Republik Indonesia (ORI), uang kertas pertama yang dikeluarkan oleh Pemerintah RI. Pertama kali resmi beredar pada 30 Oktober 1946, tanggal bersejarah tersebut kini diperingati sebagai Hari Oeang.
Keputusan menerbitkan uang sendiri lahir di tengah gelombang revolusi, blokade ekonomi sekutu, serta gempuran militer NICA yang ingin kembali mencengkeram Nusantara. Kehadiran mata uang perdana ini tentu tak lepas dari dedikasi dan kerja keras para tokoh dari berbagai latar belakang.
Menteri Keuangan A.A. Maramis
Langkah penyelamatan ekonomi bangsa dimulai dari meja A.A. Maramis selaku Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia. Lewat Dekrit 29 September 1945, ia mengambil keputusan tegas untuk memutus mata rantai keuangan militer Jepang dan memulai penataan kas negara merdeka.
Dekrit tersebut memuat tiga keputusan penting: mencabut kewenangan pejabat militer Jepang dalam mengurus pengeluaran negara, mengalihkan hak dan wewenang finansial tersebut kepada Pembantu Bendahara Negara yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Keuangan per 29 September 1945, serta menginstruksikan seluruh kas negara dan kantor pos untuk menolak pencairan uang tanpa pengesahan pejabat resmi pemerintah.
Pada Oktober 1945, Maramis mulai menggerakkan persiapan pencetakan ORI. Ia membentuk Panitia Penyelenggara Percetakan Uang Kertas Republik Indonesia pada 7 November 1945, yang melibatkan unsur Kementerian Keuangan, Kementerian Penerangan, Bank Rakyat Indonesia (BRI), hingga perwakilan serikat buruh percetakan.
Namun dalam perjalanannya, situasi keamanan yang memburuk di Jakarta mengharuskan ibu kota pindah ke Yogyakarta. Proses pencetakan mata uang pertama ini pun menghadapi kendala besar menjelang diterbitkan.

Menteri Keuangan A.A. Maramis. Foto: dok. Kemenkeu.
Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara
Estafet perjuangan Maramis untuk menerbitkan mata uang sendiri dilanjutkan oleh Sjafruddin Prawiranegara, yang menjabat sebagai Menteri Keuangan di masa Kabinet Sjahrir III. Ia bergerak meyakinkan jajaran pemerintahan, termasuk Wakil Presiden Mohammad Hatta, agar alat tukar mandiri ini bisa segera diedarkan demi kedaulatan bangsa.
Tepat pada 30 Oktober 1946, di bawah kepemimpinannya, ORI akhirnya resmi beredar di tengah masyarakat. Meski diedarkan di masa kepemimpinan Sjafruddin, tanda tangan A.A. Maramis lah yang tercetak pada lembaran ORI keluaran perdana tersebut.
Hal itu tak terlepas dari sejarah panjang pencetakan ORI yang terpaksa berpindah-pindah lokasi. Sejak Mei 1946, serbuan tentara sekutu dan NICA membuat pencetakan ORI di Jakarta harus dihentikan dan berpindah ke daerah-daerah aman seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, hingga Ponorogo. Lembaran awal yang sudah terlanjur dicetak sejak era Maramis itulah yang akhirnya diedarkan.
Wakil Presiden Mohammad Hatta
Peran Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta sangat krusial dalam kelahiran ORI. Setelah sempat menimbang secara matang situasi moneter bangsa, Bung Hatta akhirnya diyakinkan oleh Sjafruddin bahwa penerbitan uang sendiri sudah tidak bisa ditawar lagi.
Menjelang peluncuran ORI pada 29 Oktober 1946, Hatta menyampaikan pidato bersejarah melalui RRI Yogyakarta. Lewat udara, ia menggelorakan semangat kebangsaan, menyiarkan pesan kedaulatan Indonesia lewat hadirnya mata uang milik sendiri.
“Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah suatu hari yang mengandung sejarah bagi tanah air kita. Rakyat kita menghadapi penghidupan baru. Besok mulai beredar Oeang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Mulai pukul 12 tengah malam nanti, uang Jepang yang selama ini beredar sebagai uang yang sah, tidak laku lagi. Beserta uang Jepang itu ikut pula tidak laku uang Javasche Bank. Dengan ini, tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan Negara,” tegas Hatta.
Arsitek di Balik ORI
Langkah teknis penerbitan uang dimulai saat Menteri Keuangan A.A. Maramis membentuk Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas RI pada 7 November 1945. Direktur Kantor Besar Bank Rakyat Indonesia (BRI) T.R.B. Sabaruddin ditunjuk sebagai ketua.
Anggotanya terdiri dari pegawai Kementerian Keuangan Negara, yaitu H.A. Pandelaki, R. Aboebakar Winagoen, E. Kusnadi. Kemudian dari Kementerian Penerangan yaitu M. Tabrani, perwakilan BRI S. Sugiono, hingga wakil buruh percetakan yaitu Oesman dan Aoes Soerjatna.
Berlokasi di Gedung Keuangan Lapangan Banteng, tim ini bekerja keras merajut desain ORI di tengah kelangkaan kertas, tinta, dan bahan cetak. Panitia sempat mencetak ratusan rim pecahan 100 rupiah polos tanpa nomor seri. Namun, kepindahan ibu kota ke Yogyakarta pada 14 Januari 1946 akibat situasi Jakarta yang genting memaksa pengerjaan uang tersebut tertunda sementara.
Tangan Seniman dan Buruh Percetakan
Di luar ranah kebijakan, ada tangan-tangan terampil yang bekerja untuk mewujudkan fisik lembaran ORI. Tim Serikat Buruh Percetakan G. Kolff bertindak sebagai pemburu teknologi, melacak fasilitas cetak modern hingga merekomendasikan percetakan G. Kolff di Jakarta dan Nederlandsch Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Malang.
Urusan estetika dan kerumitan teknis master cetak dipercayakan kepada Balai Pustaka Jakarta. Di sinilah Bunyamin Suryohardjo secara telaten mengolah bahan induk berupa negatif kaca, sementara dua seniman lainnya, Abdulsalam dan Soerono, menggoreskan kuas mereka sebagai pelukis pertama lembaran ORI. Hasil karya mereka kemudian diproduksi lewat teknik cetak offset di Percetakan Republik Indonesia, Salemba, di bawah naungan Kementerian Penerangan.
Sejak Januari 1946, proses pencetakan dikejar tanpa kenal lelah, berlangsung setiap hari dari pukul 7 pagi hingga 10 malam. Namun ketika situasi keamanan Jakarta kian memanas pada Mei 1946, aktivitas percetakan terpaksa dihentikan dan diboyong bergerilya ke Yogyakarta, Surakarta, Malang, hingga Ponorogo. Dari kerja keras para buruh cetak dan goresan kuas para seniman inilah, identitas fisik mata uang pertama Indonesia akhirnya berhasil diselamatkan.