Aksi protes pelajar di Prancis memasuki putaran kelima dengan sekitar 200 sekolah ditutup. (Anadolu Agency)
Aksi Protes Pelajar di Prancis Masuki Putaran Kelima, 200 Sekolah Ditutup
Willy Haryono • 13 October 2026 18:01
Paris: Pelajar di Prancis kembali menggelar aksi protes nasional pada Selasa, 13 Oktober 2026, dengan sekitar 200 sekolah ikut terdampak sehingga harus ditutup.
Serikat guru turut bergabung dalam mobilisasi tersebut untuk menuntut peningkatan anggaran pendidikan dan perbaikan kondisi belajar.
Menurut laporan Le Parisien, unjuk rasa dimulai di Lyon dan Nantes. Sementara itu, pelajar memblokade sejumlah sekolah di Paris, Rennes, dan Strasbourg dalam aksi putaran kelima.
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengatakan kepada France Inter bahwa “sekitar 200 lembaga pendidikan ditutup”. Ia menyebut jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.
Geffray mengatakan platform konsultasi bagi siswa sekolah menengah telah menerima 86.000 masukan. Pemerintah juga sedang merekrut hampir 1.000 guru kontrak untuk memperkuat kapasitas penggantian tenaga pengajar.
Di Paris, pelajar, orang tua, dan guru berkumpul di dekat Lycée Hélène-Boucher. Para demonstran juga memblokade sebagian area Lycée Turgot dan Lycée Montaigne.
Aksi pawai dijadwalkan berangkat dari Place d’Italie pada pukul 14.00 waktu setempat atau 12.00 GMT, menuju Les Invalides.
Universitas Paris-Panthéon-Assas memindahkan kegiatan perkuliahan ke daring setelah aksi blokade berdampak pada kampus Assas dan Vaugirard.
Seorang sumber kepolisian mengonfirmasi terjadinya bentrokan antara dua kelompok di luar kampus Assas pada pagi hari. Sejumlah mahasiswa melaporkan seorang rekan mereka terluka.
Greta Thunberg Kecam Tindakan Polisi
Serikat guru FSU-SNUIPP dan SNES-FSU menyerukan anggotanya untuk bergabung dalam aksi tersebut. Mereka menyoroti tuntutan bersama terkait pendidikan publik, kondisi kerja, dan upah.Aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg turut bergabung dengan para demonstran di luar Lycée Paul-Éluard di Saint-Denis, sebelah utara Paris. Sekitar 20 pengacara berkumpul di lokasi untuk membentuk barisan pelindung di sekitar para pelajar.
Dalam wawancara dengan BFMTV, Thunberg mengecam tindakan aparat yang disebutnya “sangat brutal” terhadap kaum muda yang berdemonstrasi untuk menuntut “hal-hal paling mendasar”.
“Ini menunjukkan segalanya tentang polisi dan siapa yang sebenarnya mereka lindungi. Aparat penegak hukum seharusnya melindungi kaum muda,” katanya.
Tuntutan gerakan tersebut mencakup peningkatan belanja pendidikan serta penolakan terhadap Parcoursup, platform penerimaan mahasiswa universitas di Prancis.
Presiden Emmanuel Macron meminta para demonstran tetap tenang serta menghormati orang lain dan properti. Menurut Le Parisien, lebih dari 6.800 orang telah ditahan sejak gerakan tersebut dimulai, dan sebagian besar dari mereka merupakan anak di bawah umur.
Sementara itu, Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional Prancis (IGPN) telah membuka 24 penyelidikan terkait dugaan kekerasan polisi.
Baca juga: Protes Pelajar Masuki Hari ke-10, Pemerintah Prancis Janjikan 3.000 Guru Pengganti