Guru Besar FMIPA UI, Agustino Zulys dalam program Kontroversi. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Guru Besar Ungkap Risiko Uji SNI dan BPOM Galon Guna Ulang Hanya di Awal
Muhamad Marup • 8 October 2026 22:09
Jakarta: Guru Besar FMIPA UI, Agustino Zulys, mengatakan, uji keamanan galon guna ulang (Ganula) baik dari Standar Nasional Indonesia (SNI) maupun Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) hanya dilakukan di awal. Menurutnya, pengujian berlangsung ketika Ganula dalam kondisi ideal.
"SNI dan pengujian BPOM itu kan mengukur galon guna ulang pada kondisi ideal dan baru diproduksi," ujar Zulys, dalam program Kontroversi Metro TV, Kamis, 8 Oktober 2026.
Ia mengatakan, ketika galon sampai ke konsumen, galon berada dalam kondisi yang dapat menimbulkan perubahan. Pada proses tersebut, belum ada standar yang menguji kelayakannya.
"Setelah proses transportasi menggunakan bak terbuka, kena matahari, panas, dan apalagi digunakan berulang-ulang kali itu kan sebetulnya (galon) sudah mengalami perubahan-perubahan," jelasnya.
"Ibaratnya sebuah tembok itu kan ada batu bata, itu ada semen, pasir, dan sebagainya. Nah itu ada perekatnya. Nah kalau tembok itu kan semakin lama, hujan dan sebagainya itu ada yang runtuh tuh semen-semennya," katanya.
Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), selama 2024-2026 menemukan beragam keluhan konsumen mulai dari galon kusam, retak, hingga dugaan peredaran galon berusia tua. Sementara, paparan panas, sinar UV, dan proses pencucian juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
93 persen konsumen tidak mendapat informasi mengenai batas masa pakai galon dari produsen atau penjual. Selain itu, 83 persen mengaku berhak mendapatkan galon dengan kualitas lebih baik.
"78 persen mengharapkan penggantian galon sebagai solusi utama," tutur Ketua KKI, David Tobing.
"SNI dan pengujian BPOM itu kan mengukur galon guna ulang pada kondisi ideal dan baru diproduksi," ujar Zulys, dalam program Kontroversi Metro TV, Kamis, 8 Oktober 2026.
Ia mengatakan, ketika galon sampai ke konsumen, galon berada dalam kondisi yang dapat menimbulkan perubahan. Pada proses tersebut, belum ada standar yang menguji kelayakannya.
"Setelah proses transportasi menggunakan bak terbuka, kena matahari, panas, dan apalagi digunakan berulang-ulang kali itu kan sebetulnya (galon) sudah mengalami perubahan-perubahan," jelasnya.
Ilustrasi. (dok. Istimewa)
Zulys menambahkan, perubahan komposisi galon juga bisa berubah seiring penggunaan waktu yang lama. Menurutnya, bahan-bahan pembuat galon bisa terbawa air yang ada dalam galon tersebut."Ibaratnya sebuah tembok itu kan ada batu bata, itu ada semen, pasir, dan sebagainya. Nah itu ada perekatnya. Nah kalau tembok itu kan semakin lama, hujan dan sebagainya itu ada yang runtuh tuh semen-semennya," katanya.
Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), selama 2024-2026 menemukan beragam keluhan konsumen mulai dari galon kusam, retak, hingga dugaan peredaran galon berusia tua. Sementara, paparan panas, sinar UV, dan proses pencucian juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Baca Juga :
Keamanan Galon Guna Ulang Tidak Memandang Merek
"78 persen mengharapkan penggantian galon sebagai solusi utama," tutur Ketua KKI, David Tobing.