Wamenkeu Juda Agung. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari.
Jaga Daya Beli, Pemerintah Pilih Efisiensi Ketimbang Kerek Harga BBM
Andika Fauzan Azhari • 1 October 2026 19:54
Bogor: Pemerintah memilih melakukan efisiensi anggaran belanja ketimbang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan kenaikan harga BBM secara mendadak berdampak langsung pada lonjakan inflasi dan harga pangan yang membebankan masyarakat rentan. Oleh karena itu, penyesuaian dilakukan melalui penghematan di pos pengeluaran pemerintah lainnya.
"Kalau BBM kemarin tiba-tiba dinaikkan semua, pasti kenanya adalah di masyarakat menengah ke bawah. Inflasinya akan naik, harga pangan naik," jelas Juda dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Kamis, 1 Oktober 2026.
"Tapi at the same time kita bisa menjaga fiskal karena kita mencoba melakukan efisiensi-efisiensi di pengeluaran-pengeluaran yang lain," tambah dia menjelaskan.
Juda mengungkapkan, inflasi Indonesia yang dijaga pada kisaran 2,5 plus minus 1 persen tergolong lebih rendah dibandingkan sejumlah negara maju. Besaran inflasi tersebut dirancang agar tidak mengganggu daya beli maupun pengambilan keputusan masyarakat dalam berbelanja dan berumsi.
Baca Juga :
Mengejar Growth 6%, Menjaga Kredibilitas Fiskal

(Ilustrasi penghitungan APBN. Foto: dok MI)
Jaga daya beli dan keseimbangan fiskal
Menurut Juda, pengendalian inflasi dan pertahanan daya beli masyarakat merupakan bagian integral dari strategi mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth).
"Jadi memang kita mencoba untuk melakukan keseimbangan itu. Antara kita menjaga daya beli, menjaga growth dengan menjaga keseimbangan fiskal," tambah Juda.
Ia mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Bank Indonesia untuk mengendalikan gejolak harga pangan di daerah.