Yunasila Silviane Yobee, penerima beasiswa afirmasi Orang Asli Papua (OAP) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). (Dokumentasi/ Istimewa)
Suara Anak Muda Papua untuk Keberlanjutan Beasiswa
Silvana Febiari • 14 October 2026 16:26
Jakarta: Beberapa tahun terakhir makin banyak anak-anak muda Papua menerima beasiswa dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lewat dana otonomi khusus bidang pendidikan. Salah satunya adalah Yunasila Silviane Yobee, penerima beasiswa afirmasi Orang Asli Papua (OAP) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Hal ini menunjukkan tren positif, seiring semakin terbukanya akses informasi beasiswa bagi anak-anak Papua yang ingin melanjutkan pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.
"Saya apresiasi ya, karena makin banyak orang asli Papua yang mendapat kesempatan melanjutkan studi dengan beasiswa dari pemerintah," kata Yuna dalam diskusi di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
Yuna sendiri berasal dari Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Dia mendapatkan beasiswa LPDP afirmasi orang Papua dan baru saja menyelesaikan studi Strata 2 di Boston University, Amerika Serikat. Saat ini, Yuna telah mengabdi sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Dalam Negeri.
Menurut Yuna, pendidikan perlu menjadi perhatian khusus pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Papua. Pasalnya, banyak anak Papua yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah maupun perguruan tinggi, tetapi terkendala biaya.
Pemerintah daerah juga telah berinisiatif menggratiskan biaya pendidikan di tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah. Di Papua Tengah, pemerintah bahkan menyediakan program belajar bahasa Inggris di Bali bagi anak-anak Papua, selain memberikan beasiswa.
"Ini kita apresiasi. Tapi saya berharap keterbukan infiormasi tentang fasilitas beasiswa Pendidikan untuk anak-anak Papua terus disosialisasikan secara massif supaya jumlah penerima manfaat makin banyak," ungkapnya.
Yuna menyoroti pentingnya keberlanjutan program beasiswa bagi anak-anak muda Papua, terutama beasiswa yang bersumber dari dana otonomi khusus (Otsus) Papua untuk bidang pendidikan.
Menurut Yuna, banyak anak muda Papua penerima beasiswa Otsus menghadapi dilema setelah menyelesaikan studi, baik di dalam maupun luar negeri. Pasalnya, tidak semua lulusan dapat terserap sebagai ASN.
"Di satu sisi sudah mendapat kesempatan sekolah tinggi. Tetapi saat kembali ke Papua, mereka mengalami kesulitan mengaplikasikan ilmu karena terkendala biaya untuk usaha," ujarnya.

Ilustrasi Beasiswa LPDP, dok: lpdp
Lulusan penerima beasiswa Otsus Papua juga menghadapi tuntutan dari keluarga dan masyarakat karena telah menempuh pendidikan di luar daerah maupun luar negeri dengan dukungan dana Otsus.
"Karena itu, saya mengusulkan agar pemerintah daerah juga mulai memikirkan tentang program keberlanjutan dari anak-anak Papua yang sudah menyelesaikan studi Pendidikan tinggi baik di dalam dan di luar negeri. Setidaknya memfasilitasi mereka untuk mulai mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh lewat suntikan modal usaha," ungkap Yuna.
Dia optimistis pelaksanaan Otsus Papua akan meningkatkan kualitas sumber daya anak muda Papua. Pemerintah daerah perlu terus mensosialisasikan beasiswa yang diperuntukkan untuk orang Papua.
"Tapi ya itu tadi. Perlu dipikirkan juga program keberlanjutan pasca studi," timpalnya.
Yuna juga mengingatkan, program beasiswa tidak hanya diberikan untuk pendidikan formal. Pendidikan informal juga perlu didorong.
Menurutnya, kesempatan bagi anak-anak Papua untuk menempuh pendidikan di luar daerah maupun luar negeri dapat membuka wawasan mereka tentang dunia yang lebih luas dan persaingan global.