Ilustrasi. Foto: iStock
Wall Street Anjlok, Nasdaq Turun Hampir 2% Terseret Saham Teknologi
Eko Nordiansyah • 15 October 2026 08:29
New York: Wall Street berakhir lebih rendah pada Rabu, 14 Oktober 2026 waktu setempat. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor pendek melonjak tajam, setelah laporan inflasi konsumen AS yang lebih tinggi dari perkiraan memicu ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Dikutip dari Investing, Kamis, 15 Oktober 2026, indeks acuan S&P 500 turun 1,1 persen dan ditutup pada level 7.723,59 poin. Sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok 1,9 persen ke posisi 26.692,87 poin.
Penurunan ini dipicu oleh pelemahan saham-saham sektor teknologi, yang berada di bawah tekanan akibat kombinasi kekhawatiran terhadap persaingan dari perusahaan Tiongkok serta kenaikan imbal hasil obligasi.
Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,1 persen dan ditutup pada level 51.622,32 poin. Indeks ini mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan dua indeks acuan lainnya berkat penguatan pada saham-saham sektor kesehatan. Saham Amgen, Merck, dan UnitedHealth masing-masing mencatat kenaikan antara 3,2 hingga 4,7 persen.
Inflasi konsumen tahunan AS meningkat
Fokus pasar pada Rabu tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS terbaru. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), IHK umum (headline CPI) naik 0,6 persen secara bulanan pada September, sementara IHK inti (core CPI) naik 0,3 persen secara bulanan.Angka-angka ini dibandingkan dengan estimasi masing-masing sebesar 0,6 persen dan 0,2 persen, serta angka Agustus yang masing-masing tercatat sebesar 0,4 persen dan 0,3 persen.
Secara tahunan (yoy), indeks harga konsumen (CPI) utama naik 3,7 persen pada September, sementara CPI inti meningkat 2,6 persen. Kedua angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan dan mengalami percepatan dibandingkan level pada Agustus.
Indeks harga bensin naik 9,1 persen secara bulanan (mtm) pada September, yang menyumbang lebih dari separuh kenaikan bulanan CPI utama. Sementara itu, indeks harga energi melonjak 20,4 persen secara tahunan (yoy) bulan lalu.
Menjelang laporan CPI, kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed dalam waktu dekat sempat menurun setelah munculnya data yang positif mengenai pertumbuhan ekonomi AS, indikator inflasi pilihan bank sentral, serta kondisi pasar tenaga kerja.
Namun, data CPI ini kembali membuka peluang kenaikan suku bunga pada Oktober. Menurut perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin (25 basis poin) akhir bulan ini meningkat menjadi sekitar 47 persen, naik dari sebelumnya hampir 22 persen, menyusul dirilisnya data inflasi konsumen.
Pada Rabu, laporan Beige Book dari Federal Reserve menunjukkan hanya dua dari 12 distrik Fed yang melaporkan pertumbuhan moderat dalam aktivitas ekonomi. Tiga distrik melaporkan pertumbuhan yang moderat-rendah (modest), empat distrik melaporkan pertumbuhan tipis, dan tiga distrik lainnya melaporkan tidak ada perubahan yang signifikan.
Baca Juga :
Harga Konsumen AS Naik 3,7% pada September 2026
(2).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Aksi jual obligasi kembali terjadi pasca-data CPI
Para pedagang obligasi AS langsung melakukan aksi jual setelah laporan CPI dirilis, dengan obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap suku bunga mengalami tekanan lebih besar. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor dua tahun melonjak hingga 15,5 basis poin ke level tertinggi harian di 4,948 persen, sementara imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun naik 11,8 basis poin menjadi 5,335 persen.Aksi jual tersebut mereda di sesi perdagangan berikutnya; imbal hasil tenor dua tahun tercatat naik 1,7 basis poin menjadi 4,810 persen, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun turun 2,9 basis poin menjadi 5,188 persen.
Pasar obligasi AS telah dilanda aksi jual besar-besaran dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor: kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh harga minyak, kecemasan terkait besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence), sikap Federal Reserve yang semakin hawkish, serta utang fiskal yang terus membengkak.
Tren penurunan harga obligasi sempat terhenti pekan lalu, dan pasar sempat lebih tenang minggu ini karena adanya libur Columbus Day pada hari Senin di pasar pendapatan tetap (fixed-income).
Deretan laporan laba bank
Selain data inflasi, pada Rabu para pelaku pasar menerima lebih banyak laporan kuartalan dari lembaga keuangan besar AS, sehari setelah serangkaian laporan serupa dirilis oleh empat dari lima bank terbesar di AS berdasarkan aset konsolidasi.Bank terbesar kedua, Bank of America, mencatatkan penurunan laba kuartalan. Hal ini dipengaruhi oleh keputusan bank tersebut untuk menyisihkan dana cadangan sebesar USD1,2 miliar sebagai respons terhadap denda dari otoritas AS, akibat kegagalan dalam mendeteksi potensi aktivitas ilegal. Sahamnya ditutup turun hampir lima persen.
BlackRock mencatatkan kenaikan laba kuartalan, didorong oleh peningkatan biaya pengelolaan dana klien. Sahamnya naik 0,8 persen.
Morgan Stanley juga mengumumkan kenaikan pendapatan kuartalan berkat imbal hasil yang solid dari perdagangan ekuitas yang dipicu oleh volatilitas pasar, meskipun harga sahamnya justru turun 2,7 persen.
Pada Selasa, bank terbesar di AS, JPMorgan, melaporkan laba kuartalan yang meleset dari perkiraan, di tengah penurunan pendapatan dari pasar pendapatan tetap (fixed-income) untuk pertama kalinya sejak kuartal I-2024. Namun, hal ini diimbangi dengan revisi naik pada proyeksi pendapatan bunga bersih untuk setahun penuh.
Goldman Sachs melaporkan kinerja kuartalan yang melampaui estimasi, baik dari sisi pendapatan maupun laba, berkat kekuatan dalam bisnis perdagangan dan perbankan investasi.
Sementara itu, bank terbesar kedua di AS, Citi, mencatatkan kenaikan laba bersih kuartalan sebesar 40 persen. Wells Fargo mencatat peningkatan pendapatan bunga bersih kuartalan sebesar lima persen, terbantu oleh saldo pinjaman dan sekuritas investasi yang lebih tinggi.
Di luar sektor perbankan, ASML kembali menaikkan prospek tahunannya. Penyedia peralatan semikonduktor asal Belanda ini memberikan gambaran optimis mengenai permintaan kecerdasan buatan (AI) yang melonjak. Perusahaan tersebut bahkan mengungkapkan bahwa para kliennya telah mengunci pesanan hingga 2030. Saham ASML yang tercatat di bursa AS turun hampir empat persen.
Saham perusahaan neocloud melemah
Saham perusahaan yang dikenal sebagai neocloud mengalami penurunan signifikan pada Rabu. Penyedia layanan komputasi awan khusus ini berfokus pada penyewaan sumber daya grafis, daya unit pemrosesan grafis (GPU) untuk pelatihan dan inferensi AI. Saham CoreWeave anjlok 15,5 persen, sementara Nebius turun lebih dari 10 persen.Penurunan ini sebagian dipicu oleh laporan Gartner yang memprediksi pada 2030, 80 persen penyedia layanan cloud generasi baru (neocloud) diperkirakan akan menghentikan operasi independen mereka.
CoreWeave juga menghadapi aksi jual tajam pada obligasinya akibat kekhawatiran mengenai risiko pendanaan, yang mendorong pimpinan tertingginya, Mike Intrator, untuk membela bisnis tersebut dan menuding pasar bertindak secara irasional.