Perdagangan saham di Bursa Efek Frankfurt. Foto: Xinhua/Lu Yang.
Bursa Eropa Anjlok, STOXX 600 Sentuh Level Terendah 3 Bulan
Husen Miftahudin • 2 October 2026 08:54
Frankfurt: Bursa saham Eropa mengawali Oktober dan kuartal IV-2026 dengan pelemahan pada perdagangan Kamis waktu setempat. Tekanan berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Eropa, serta inflasi energi yang masih tinggi.
Mengutip Investing.com, Jumat, 2 Oktober 2026, indeks STOXX 600 pan-Eropa turun 1,3 persen ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Penurunan juga terjadi di sejumlah bursa utama. Indeks CAC 40 Prancis melemah 1,6 persen, DAX Jerman turun 0,9 persen, sedangkan FTSE 100 Inggris terkoreksi 1,7 persen.
Investor masih mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di pasar global dalam beberapa pekan terakhir. Pergerakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan biaya produksi serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun, yang menjadi salah satu acuan pasar obligasi zona euro, naik satu basis poin. Sebelumnya, imbal hasil tersebut sempat menyentuh 3,6526 persen pada awal pekan, level tertinggi sejak Juni 2009.
Di Prancis, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2002. Pergerakan tersebut terjadi menjelang pengumuman rancangan anggaran pemerintah Prancis untuk 2027 oleh Perdana Menteri Sébastien Lecornu.
Pemerintah Prancis menargetkan penghematan belanja sebesar 54 miliar euro untuk menekan defisit yang diproyeksikan mencapai 5,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kenaikan biaya pinjaman berpotensi menambah beban pembayaran utang bagi perusahaan dan rumah tangga, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap keuangan pemerintah di kawasan euro.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Harga energi jadi perhatian
Tekanan terhadap pasar saham Eropa juga datang dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik membuat pasar energi tetap menjadi perhatian.
Harga minyak mentah global dan gas alam Eropa masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut turut meningkatkan tekanan biaya energi di kawasan Eropa.
Data awal harga konsumen September menunjukkan inflasi meningkat lebih cepat dari perkiraan di sejumlah ekonomi utama Eropa, termasuk Prancis, Italia, dan Spanyol. Kenaikan terutama didorong oleh harga bensin, solar, dan gas grosir.
Tekanan harga tersebut turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Bank Sentral Eropa. Pasar memperkirakan biaya pinjaman dapat bertahan pada level tinggi lebih lama untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Pelaku pasar juga mencermati serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan pada akhir perdagangan sebelumnya. Data inflasi berdasarkan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS untuk Agustus tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar. Perkembangan tersebut mengurangi tekanan langsung terhadap pasar obligasi global.
Namun, ketidakpastian geopolitik serta tekanan inflasi di sejumlah negara Eropa masih membatasi pemulihan pasar saham secara luas. Investor institusional juga cenderung berhati-hati dengan mempertahankan cadangan kas sambil mencermati dampak biaya pinjaman dan harga energi terhadap perekonomian zona euro.
Di antara saham individual, Sanofi menguat 2,6 persen. Kenaikan terjadi setelah perusahaan farmasi Prancis tersebut menyepakati pembayaran USD1 miliar di muka kepada Regeneron serta pembayaran tambahan hingga USD7 miliar untuk memperluas kerja sama kedua perusahaan.