Bursa Saham Eropa Melemah di Tengah Tekanan Geopolitik dan AI

Ilustrasi. Foto: Businesspost.ng

Bursa Saham Eropa Melemah di Tengah Tekanan Geopolitik dan AI

Husen Miftahudin • 25 September 2026 10:08

Frankfurt: Bursa saham Eropa melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah sentimen pasar tertekan oleh kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, kekhawatiran sektor teknologi terhadap risiko kecerdasan buatan (AI), serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 25 September 2026, indeks STOXX 600 turun 0,6 persen. Indeks DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing melemah 0,6 persen dan 0,5 persen. Sementara itu, indeks FTSE 100 London turun 0,2 persen.
 
Penurunan bursa Prancis terjadi meski saham Christian Dior menguat lebih dari 15 persen. Penguatan tersebut terjadi setelah keluarga Arnault mengumumkan rencana konsolidasi grup mewah tersebut di bawah struktur holding mereka serta mengajukan penawaran tunai untuk saham minoritas yang belum dimiliki.
 
Di Inggris, saham Raspberry Pi Holdings menjadi salah satu penggerak utama FTSE 100. Saham perusahaan tersebut melonjak lebih dari 13 persen setelah melaporkan pendapatan dan profitabilitas semester pertama yang mencatat rekor. Raspberry Pi Holdings juga memperkirakan EBITDA setahun penuh akan melampaui konsensus pasar.
 
Saham Energa SA turut mencatat kenaikan signifikan dengan melonjak 37 persen. Penguatan terjadi setelah pemegang saham mayoritas ORLEN SA menyatakan akan membeli kembali saham milik pemegang saham minoritas yang tersisa dengan harga PLN27,60 per saham.
 
Saham ASOS juga naik lebih dari 11 persen setelah peritel fesyen daring tersebut memperkirakan EBITDA yang disesuaikan berada di atas titik tengah kisaran panduan sebesar GBP150 juta hingga GBP180 juta.
 



(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
 

Kebuntuan AS-Iran tekan sentimen pasar

 
Harapan terhadap terobosan diplomatik antara AS dan Iran dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali meredup. Pejabat kedua negara masih memiliki perbedaan terkait sejumlah syarat kesepakatan damai, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi tersebut kembali meningkatkan premi risiko di pasar energi.
 
Sentimen terhadap perusahaan yang sedang berkembang juga melemah setelah sejumlah pemimpin perusahaan teknologi global menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko penerapan AI, prospek monetisasi, serta hambatan regulasi. Perkembangan tersebut menjadi perhatian menjelang panel teknologi tingkat tinggi yang berlangsung di Washington.
 
Investor juga mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington. Pasar memperhatikan potensi perkembangan hubungan perdagangan serta kebijakan ekspor teknologi kedua negara.
 
Di sisi lain, aset-aset Prancis tetap menjadi perhatian investor menjelang rilis data survei iklim bisnis dan kepercayaan konsumen Prancis pada sesi berikutnya. Data tersebut dirilis di tengah kondisi fiskal Prancis yang masih menjadi perhatian pasar. Biaya untuk mengasuransikan utang pemerintah Prancis terhadap risiko gagal bayar melalui credit default swap (CDS) telah mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
 
Investor juga masih meminta premi risiko lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah Prancis atau OAT. Kondisi tersebut membuat obligasi Prancis menjadi salah satu yang berkinerja paling lemah di zona euro. Tekanan terhadap pasar obligasi Prancis berlangsung di tengah kebuntuan parlemen yang menghambat upaya konsolidasi anggaran struktural.

(Husen Miftahudin)