Podium MI: Tercekik Selat Hormuz

Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI/Ebet.

Podium MI: Tercekik Selat Hormuz

Abdul Kohar • 3 March 2026 05:34

SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan. Di dalam keseimbangan energi global, selat selebar kurang dari 33 kilometer di titik tersempit itu ialah urat nadi utama pasokan minyak dan gas dunia. Ia sebuah simpul dagang yang menyatukan produksi energi kawasan Teluk Persia dengan pasar energi Asia, Eropa, dan bahkan Amerika.

Setiap hari, melalui koridor laut sepanjang ratusan mil itu mengalir sekitar 18-20 juta barel minyak mentah dan produk energi lain, atau setara hampir 20% konsumsi minyak global (termasuk kondensat dan LNG). Jumlah itu lebih besar daripada volume minyak yang melalui Suez dan Panama secara terpadu.

Dalam situasi geopolitik normal, aliran minyak dan gas itu mengalir tanpa hambatan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, konflik Teluk Persia telah mendorong penutupan total atau fungsional Selat Hormuz. Serangan Amerika Serikat dan Israel yang secara brutal menggempur Iran membuat operator besar seperti Maersk dan Hapag-Lloyd menghentikan pelayaran di area tersebut karena meningkatnya risiko keamanan dan premi asuransi perang yang melonjak.

Itu bukan sekadar gangguan pelayaran. Itu sinyal tentang apa yang akan terjadi jika arteri energi tersebut sepenuhnya tersumbat. Rantai pasokan minyak dan gas yang tersumbat berarti memicu shock energi global yang hampir tak terelakkan.

Data pasar telah menunjukkan bagaimana ekspektasi gangguan di Hormuz mendorong harga minyak mentah brent melonjak hingga lebih dari 13% dalam hitungan hari, kembali ke level tertinggi dalam lebih dari setahun. Dalam skenario penutupan lengkap, berbagai lembaga analis memperkirakan harga brent bisa menembus rentang US$100 hingga lebih dari US$130 per barel, bergantung pada lamanya gangguan, dengan efek domestik yang bisa beragam di tiap negara.

Kenaikan harga minyak di tingkat global juga pasti merembet ke seluruh aspek ekonomi, seperti inflasi energi global naik, karena biaya produksi dan transportasi turut terdongkrak. Harga bahan bakar konsumen meningkat di negara pengimpor, memukul daya beli rumah tangga. Pasokan LNG terpengaruh, terutama untuk importir besar seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok. Hal itu bakal meningkatkan tekanan pada sistem energi domestik dan pembangkit listrik.

Biaya asuransi dan freight (angkutan laut) melejit, menambah lapisan tekanan pada rantai pasok barang industri lain seperti elektronik dan otomotif. Menurut hitung-hitungan pasar, gangguan serius di Hormuz bisa mendorong inflasi Amerika naik hampir mendekati 6%, sedangkan di Eropa itu bisa mencapai dua kali lipat target bank sentral mereka.

Selat Hormuz. Foto: Tehran Times.

Indonesia, sebagai negara pengimpor bersih energi, akan merasakan dampak penutupan Hormuz melalui beberapa kanal utama. Apalagi, harga bahan bakar dan energi listrik Indonesia masih sangat bergantung pada minyak mentah dan produk energi impor. Kenaikan harga minyak global biasanya berujung pada tekanan biaya impor BBM dan bahan bakar industri.

Di tengah struktur harga domestik yang masih disubsidi atau diatur, tekanan itu bisa memicu kenaikan harga eceran BBM dan tarif listrik berbasis bahan bakar fosil sehingga memukul daya beli masyarakat. Selain itu, rupiah dan neraca pembayaran bakal terganggu.

Lonjakan harga minyak dunia meningkatkan defisit neraca perdagangan energi. Dalam jangka pendek, itu dapat memperlemah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada masa pasar global sedang volatil, sentimen negatif terhadap rupiah akan memperbesar tekanan inflasi impor. Indonesia mencatat potensi kenaikan harga BBM dan pelemahan rupiah akibat tekanan global dari gangguan Hormuz jika berlangsung lama.

Dampak lainnya terjadi pada sektor industri dan transportasi. Industri manufaktur yang bergantung pada harga energi stabil akan menghadapi tekanan margin yang lebih tajam, terutama sektor yang padat energi seperti pupuk, kimia, dan logistik. Sementara itu, sektor transportasi akan mengalami eskalasi biaya bahan bakar, yang bisa ditransfer ke harga barang konsumen. Penutupan Hormuz, sekalipun bersifat sementara, juga mempertegas kebutuhan Indonesia mempercepat transisi energi, diversifikasi pasokan energi termasuk gas, serta investasi pada energi terbarukan. Ketergantungan pada sumber energi global yang terpusat pada satu rute utama rentan terhadap gejolak geopolitik.

Selat Hormuz ialah simpul strategis yang tak tergantikan dalam sistem energi global. Gangguan alirannya bukan sekadar berita geopolitik. Itu getaran ekonomi nyata yang mengalir ke setiap sudut dunia, dari pasar minyak mentah di Wall Street hingga stasiun pompa bensin di Jakarta. Bagi Indonesia, dampaknya berlapis, yaitu mulai harga energi domestik, neraca pembayaran, nilai tukar rupiah, hingga daya saing industri.

Pada saat yang sama, krisis itu membuka cermin bagi kebijakan energi nasional, yakni memperkuat ketahanan, mempercepat diversifikasi, dan memperkuat cadangan strategis. Dalam ekonomi energi global, selat sempit itu bisa mengguncang dunia luas dalam hitungan hari.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)