Ketika Perempuan Ikut Menggerakkan Program Pemberdayaan Masyarakat

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melibatkan perempuan sebagai penerima manfaat dan relawan. Dokumentasi/ istimewa.

Ketika Perempuan Ikut Menggerakkan Program Pemberdayaan Masyarakat

Deny Irwanto • 8 September 2026 19:39

Jakarta: Keterlibatan perempuan menjadi salah satu hal yang terlihat dalam sejumlah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Program tersebut mencakup bidang inklusi sosial, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Tiga kegiatan yang dijalankan meliputi penyaluran alat bantu bagi penyandang disabilitas, pelepasan relawan Port Captain Inspirasi 2026 ke sejumlah wilayah 3T, serta pemberian bantuan sarana usaha bagi pelaku UMKM.

Keterlibatan perempuan terlihat dari jumlah penerima manfaat dan relawan yang terlibat. Dari 20 relawan Port Captain Inspirasi 2026 yang akan diberangkatkan ke Banda Aceh, Garut, Sumbawa, dan Ambon, sebanyak 16 orang merupakan perempuan. Sementara dari 53 pelaku UMKM penerima bantuan sarana usaha, 41 di antaranya perempuan. Adapun dari 25 penyandang disabilitas yang menerima alat bantu, delapan di antaranya perempuan.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Amurwani Dwi Lestariningsih, mengatakan akses dan kesempatan yang terbuka bagi perempuan dapat membantu meningkatkan kemandirian sekaligus memperluas kontribusi mereka di lingkungan sekitar.


Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melibatkan perempuan sebagai penerima manfaat dan relawan. Dokumentasi/ istimewa.

“Kami mengapresiasi upaya Pelindo yang memberikan ruang bagi perempuan untuk terlibat dan memperoleh manfaat dari berbagai program pemberdayaan. Ketika perempuan mendapatkan akses dan kesempatan untuk berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan di sekitarnya,” kata Amurwani dalam keterangan pers, Selasa, 8 September 2026.

Mendorong Kemandirian Masyarakat


Sekretaris Perusahaan Pelindo Benny Ariyadi mengatakan ketiga program tersebut menyasar kebutuhan masyarakat yang berbeda. Meski demikian, program-program itu memiliki tujuan yang sama, yakni memperluas akses dan kesempatan agar masyarakat dapat semakin mandiri.

“Program TJSL kami rancang agar menjawab kebutuhan masyarakat secara konkret. Ada penyandang disabilitas yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan mobilitas, ada masyarakat di wilayah 3T yang membutuhkan akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta ada pelaku UMKM yang membutuhkan sarana untuk mengembangkan usahanya. Pada akhirnya, semuanya bermuara pada bagaimana membuka akses dan kesempatan agar masyarakat semakin berdaya,” jelasnya.

Benny mengatakan tingginya keterlibatan perempuan dalam program UMKM dan Port Captain Inspirasi menunjukkan peran perempuan tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari penggerak perubahan di masyarakat.

“Kami melihat perempuan memiliki peran penting, bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak perubahan. Karena itu, Pelindo ingin memastikan program-program TJSL memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berkembang, meningkatkan kemandirian, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi keluarga maupun lingkungannya,” ungkapnya.

Dalam bidang pendidikan dan kesehatan, sebanyak 20 pekerja terpilih akan mengikuti program Port Captain Inspirasi 2026. Mereka akan diberangkatkan ke Banda Aceh, Garut, Sumbawa, dan Ambon untuk terlibat dalam berbagai kegiatan bersama masyarakat.

Sementara pada bidang pemberdayaan ekonomi, sebanyak 53 pelaku UMKM mendapatkan bantuan sarana usaha untuk menunjang kegiatan dan pengembangan usaha.

Salah satu penerima manfaat, Zahra, penjual Bubur Maniez di Kalibaru, Tanjung Priok, mengatakan bantuan tersebut memiliki arti bagi keberlangsungan usaha yang dijalaninya.

“Gerobak ini kelihatannya sederhana, tapi buat saya sangat berarti karena ini tempat saya mencari penghasilan setiap hari. Terima kasih Pelindo sudah membantu, mudah-mudahan usaha saya bisa makin ramai,” beber Zahra.

Pada bidang inklusi sosial, alat bantu diberikan kepada 25 penyandang disabilitas untuk mendukung mobilitas dan aktivitas sehari-hari. Program tersebut diarahkan untuk memperluas akses serta mendorong kemandirian penerima manfaat.

Benny mengatakan manfaat konektivitas yang dibangun perusahaan diharapkan tidak hanya berkaitan dengan pergerakan kapal, barang, dan manusia, tetapi juga dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat.

“Konektivitas bagi Pelindo tidak hanya berarti menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Lebih dari itu, kami ingin konektivitas juga membuka akses terhadap pendidikan, kesempatan berusaha, dan kemandirian. Dengan begitu, keberadaan Pelindo dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Benny.

(Deny Irwanto)