Ilustrasi. Foto: Freepik.
Konflik AS dan Iran Memanas, Harga Brent Sempat USD99/Barel
Eko Nordiansyah • 9 September 2026 08:22
Houston: Harga minyak menguat pada Selasa, 8 September 2026, dengan harga acuan global sempat melampaui USD99 per barel. Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara AS dan Iran yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, menyusul serangkaian serangan militer lanjutan di antara kedua pihak.
Dikutip dari Investing, Rabu, 9 September 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 1,8 persen menjadi USD98,79 per barel. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober naik 2,7 persen menjadi USD94 per barel.
Kedua kontrak tersebut sempat mencatat kenaikan tipis pada sesi sebelumnya, melanjutkan lonjakan sebesar 9,3 persen dan 9,7 persen yang terjadi pada pekan lalu.
AS-Iran saling serang
Pada Sabtu, Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyerang tiga kapal pengangkut minyak mentah Iran sebagai balasan atas serangan rudal yang diduga dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap dua kapal perang Angkatan Laut AS yang sedang berpatroli di perairan kawasan tersebut.Media pemerintah Iran pada Minggu menyatakan Teheran merespons dengan menargetkan enam kapal di Selat Hormuz dan Teluk Persia, termasuk tiga kapal tanker dan tiga kapal milik AS.
Mohsen Rezaee, seorang pejabat tinggi Iran, pada hari Senin mengatakan Washington telah menerima peringatan tegas dari rudal-rudal baru Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi tersebut juga mengancam akan membalas perang ekonomi AS dengan menerapkan zona eksklusi maritim di seluruh wilayah Teluk Persia.
"Sederhana saja: rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan dan fasilitas ini juga menghadapi risiko yang sama. Jika aset kami diserang, kalian pun akan diserang," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Baca Juga :
Wall Street Merosot, Sejumlah Faktor Jadi Pemicu
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)
Pada Selasa, media pemerintah Iran juga mengklaim angkatan bersenjata negara itu telah menangkap sebuah kapal selam otonom milik AS di pintu masuk Selat Hormuz. Sementara itu, dilaporkan adanya ledakan lebih lanjut di Pulau Kharg.
The Wall Street Journal melaporkan Iran telah melancarkan gelombang serangan kedua terhadap kapal-kapal Angkatan Laut AS pada hari Senin, berdasarkan keterangan pejabat AS. Tidak ada kapal Amerika yang terkena serangan tersebut, tambah WSJ.
Eskalasi militer yang terus berlanjut telah membebani arus minyak yang melewati selat tersebut dan memperparah kekhawatiran akan gangguan pasokan. Menurut TankerTrackers.com, ekspor minyak mentah dari Timur Tengah pada bulan Agustus turun 39 persen dibandingkan angka dasar Januari dan Februari sebesar 18,5 juta barel per hari, sebelum konflik Iran dimulai.
Laporan mengenai serangan drone dan rudal baru yang menargetkan kilang Jazan milik Saudi Aramco di dekat Laut Merah semakin memperparah kekhawatiran terkait pasokan fisik, serta mengancam ketersediaan produk olahan minyak secara global.
Di dalam negeri, kenaikan harga minyak dan energi global telah berdampak langsung pada harga bahan bakar di SPBU. Menurut data GasBuddy, harga rata-rata nasional untuk bahan bakar diesel menyentuh angka USD5,90 per galon untuk pertama kalinya pada Selasa.
Proyeksi harga minyak meningkat
Pada Minggu, Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak Brent dan WTI sebesar USD5, menjadi masing-masing USD85 dan USD80 untuk Desember 2026, serta USD80 dan USD75 pada 2027. Langkah ini diambil karena mereka memperkirakan gangguan pelayaran di Timur Tengah akan terus berlanjut hingga 2027.Kendati demikian, revisi kenaikan harga tersebut tergolong moderat karena dua alasan. Pertama, cadangan komersial negara-negara OECD hampir tidak berkurang sejak perang dimulai.
Hal ini mencerminkan defisit pasokan yang lebih kecil dari perkiraan seiring dengan adaptasi pasar, dengan penurunan stok terkonsentrasi pada cadangan strategis OECD, minyak yang sedang dalam pengiriman (oil-on-water), dan inventaris Tiongkok.
Kedua, para analis memperkirakan pasokan dari Timur Tengah akan terus menyesuaikan diri, dengan produksi yang berangsur pulih pada paruh kedua 2027 seiring meningkatnya aliran minyak yang tidak terlacak secara resmi (dark flows) dan beroperasinya jalur pipa baru menjelang akhir tahun tersebut.
Di sisi lain, data pemerintah AS menunjukkan bahwa inventaris minyak mentah dalam Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve) turun sebesar 1,2 juta barel pada pekan 4 September menjadi total 285,4 juta barel, yang merupakan tingkat terendah sejak November 1982.