Ilustrasi Wall Street. Foto: Xinhua/Michael Nagle
Wall Street Merosot, Sejumlah Faktor Jadi Pemicu
Eko Nordiansyah • 9 September 2026 08:10
New York: Wall Street pada Selasa, 8 September 2026 turun, saat para pedagang yang kembali dari akhir pekan Hari Buruh (Labor Day) dihadapkan pada eskalasi konflik Timur Tengah dan meningkatnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve. Penurunan saham sektor kesehatan juga turut memperburuk sentimen pasar.
Dikutip dari Investing, Rabu, 9 September 2026, indeks acuan S&P 500 turun 0,6 persen dan ditutup pada level 7.676,14 poin. Sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average melemah 1,2 persen dan berakhir di angka 52.787,53 poin. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,3 persen dan menetap di level 26.421,41 poin.
Laporan inflasi akan menentukan langkah The Fed
Saham-saham AS baru saja melewati pekan dengan hasil beragam yang dipicu oleh aksi jual besar-besaran obligasi Treasury, lonjakan harga minyak, dan laporan lapangan kerja bulan Agustus yang sangat kuat, yang memicu penyesuaian tajam terhadap prospek kebijakan moneter The Fed.Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 162 ribu lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) pada Agustus, hampir tiga kali lipat dari angka perkiraan sebesar 55 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1 persen.
Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS yang sangat tangguh dan menunjukkan adanya ekonomi yang mengalami overheating (terlalu panas) akibat tekanan harga. Dalam skenario seperti itu, bank sentral biasanya mempertimbangkan untuk memperketat kebijakan.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: iStock)
Pelaku pasar mencerminkan ekspektasi tersebut dengan meningkatkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin oleh The Fed pada akhir bulan ini, yang saat ini berada di kisaran 60 persen menurut alat CME FedWatch.
Data ini juga muncul setelah adanya sinyal yang beragam dari para pembuat kebijakan. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menunjukkan sikap yang jelas hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole pada akhir Agustus.
Sikap tersebut diimbangi oleh pernyataan bernada dovish pekan lalu dari anggota pemungutan suara Federal Open Market Committee (FOMC), John Williams (Presiden The Fed New York) dan Gubernur Christopher Waller.
Para pemantau suku bunga kini akan mencermati laporan indeks harga produsen (PPI) dan indeks harga konsumen (CPI) bulan Agustus yang dijadwalkan rilis pekan ini, guna mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai langkah FOMC pada 16 September.
Saham Qualcomm naik, sektor kesehatan melemah
Menilik pergerakan saham, Qualcomm menutup perdagangan dengan kenaikan 3,2 persen. Perusahaan perancang cip tersebut mengumumkan kolaborasi jangka panjang lintas generasi dengan Amazon untuk mengembangkan silikon khusus dan solusi konektivitas optik supercepat bagi pusat data kecerdasan buatan (AI).Yang lebih menarik, sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Qualcomm menyatakan akan menerbitkan waran bagi Amazon untuk membeli hingga 25 juta lembar saham biasa perusahaan.
Di sisi lain, sektor kesehatan dalam indeks S&P 500 merosot 2,6 persen, tertekan oleh penurunan hampir 14 persen pada saham Novartis yang tercatat di bursa AS. Raksasa farmasi asal Swiss tersebut mengumumkan dua kendala dalam uji klinis pada Jumat dan Selasa.
Kabar pertama tersebut juga berdampak negatif terhadap saham Amgen, yang merupakan komponen indeks Dow 30, hingga anjlok lebih dari 10 persen.