Ekonomi Tumbuh Pesat, Indonesia Dinilai Bisa Jadi Rebutan Kekuatan Global

Ilustrasi. Foto- Dok istimewa

Ekonomi Tumbuh Pesat, Indonesia Dinilai Bisa Jadi Rebutan Kekuatan Global

Achmad Zulfikar Fazli • 13 May 2026 16:03

Jakarta: Anggota Komisi XI DPR, Ahmad Najib Qodratullah, menekankan penting untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa guna menghadapi dampak ekonomi akibat ketidakpastian global. Persatuan dan kesatuan bangsa dinilai penting untuk mencegah gangguan dari pihak-pihak luar yang tidak senang dengan berbagai capaian positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki pertumbuhan cepat. Ketika ekonomi suatu negara naik, yang diperebutkan bukan cuma pasar domestik, akses bahan mentah, jalur logistik, pengaruh politik, kontrol teknologi dan aliansi regional,” kata Najib membeberkan pandanganya, Rabu, 13 Mei 2026.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 menorehkan catatan positif lantaran mencapai 5,61 persen. Capaian positif pertumbuhan ekonomi di angka 56,1 persen ini merupakan yang terbaik sejak 10 tahun terakhir.

Najib mengungkapkan Indonesia saat ini juga mempunyai nilai strategis karena memiliki tiga hal sekaligus. Mulai dari populasi besar, sumber daya alam seperti nikel, batu bara, sawit, hingga posisi maritim strategis mulai dari ALKI, Selat Malaka, dan jalur Indo-Pasifik.

“Jadi jika ekonomi tumbuh stabil, Indonesia makin penting dalam peta persaingan antara United States, China, dan kekuatan regional lain,” beber Najib.

Najib menjelaskan bentuk gangguan yang paling realistis terhadap Indonesia bukan invasi. Namun, kata dia, Indonesia kerap mengalami gangguan nonkonvensional.

“Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas. Jika harga energi terguncang, efeknya cepat terasa pada fiskal dan rupiah,” ujar Najib.

Najib menambahkan gangguan nonkonvensional lainnya, seperti  intervensi informasi baik disinformasi media sosial, pembelahan isu agama/suku, penggiringan opini antipemerintah, dan sentimen pasar lewat rumor.

“Tujuannya bukan menjatuhkan negara secara militer, tetapi membuat keputusan ekonomi tersendat,” tutur Najib.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Dok. Metrotvnews.com

Baca Juga: 

Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%, Purbaya Andalkan Peran Sektor Swasta

Di samping itu, Najib menambahkan sektor di Indonesia yang paling rawan menghadapi tekanan, antara lain hilirisasi mineral, terutama nikel. Bagi Najib, baterai kendaraan listrik membuat posisi Indonesia naik drastis.

“Ini menempatkan Indonesia dalam kompetisi rantai pasok global dan negara lain ingin sumber nikel, tapi tidak ingin Indonesia terlalu dominan,” beber Najib.

Selain itu, kata Najib, ialah jalur laut. Najib menuturkan Strait of Malacca dan jalur sekitarnya adalah urat nadi perdagangan. Gangguan kecil di jalur ini, akan langsung  memukul ekspor, impor energi, biaya logistik, dan nilai tukar Indonesia.

“Geopolitik sedang memanas, banyak pilihan-pilihan untuk kita. apakah kita akan menjadi warrior untuk indonesia. atau justru tergiring dengan disinformasi yang berseliweran melalui media media yang ada. ini hanya sekedar pilihan-pilihan individu,” ujar Najib.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)