Mengenal DRSABC, Tahapan Pertolongan Pertama saat Keadaan Darurat

Ilustrasi pixabay

Mengenal DRSABC, Tahapan Pertolongan Pertama saat Keadaan Darurat

Putri Purnama Sari • 16 September 2026 19:49

Jakarta: Bencana alam dapat menimbulkan situasi darurat yang membutuhkan pertolongan cepat, terutama bagi korban yang mengalami cedera atau kehilangan kesadaran. Namun, sebelum membantu korban, penolong perlu memastikan kondisi di sekitarnya aman agar tidak ikut menjadi korban.

Selain memperhatikan keselamatan diri, penolong juga perlu mengetahui langkah dasar untuk memeriksa kondisi korban. Pemeriksaan ini membantu menentukan tindakan yang perlu dilakukan sebelum bantuan medis tiba.

Dalam buku panduan SAR, terdapat prinsip dasar pertolongan korban yang dikenal melalui urutan Danger, Response, Shout, Airway, Breathing, dan Circulation. Tahapan tersebut mencakup pemeriksaan bahaya di sekitar korban, respons korban, jalan napas, pernapasan, hingga peredaran darah.

Berikut tahapan yang perlu diperhatikan saat memberikan pertolongan pertama kepada korban dalam kondisi darurat.

Pertolongan Pertama saat Keadaan Darurat


Ilustrasi freepik

Berdasarkan buku panduan SAR, terdapat sejumlah tahapan yang perlu diperhatikan saat menolong korban dalam situasi darurat. Langkah-langkah ini dimulai dengan memastikan keamanan lokasi, kemudian memeriksa respons korban dan kondisi pernapasannya.

Berikut tahapan pertolongan pertama:

  • Danger (Bahaya)
    Sebelum mendekati korban, perhatikan bahaya yang mungkin ada di sekitarnya. Pastikan area tersebut aman agar penolong tidak ikut mengalami cedera atau berada dalam situasi berbahaya.
  • Response (Respons)
    Setelah memastikan lokasi aman, periksa respons korban untuk mengetahui apakah ia masih sadar. Jika korban sadar, tanyakan kondisinya. Jika korban tidak menunjukkan respons, lanjutkan dengan meminta pertolongan.
  • Shout (Berteriak meminta pertolongan)
    Jika korban tidak menunjukkan reaksi, berteriaklah untuk meminta bantuan dari orang-orang di sekitar. Langkah ini dilakukan agar penolong mendapatkan bantuan saat menangani korban.
  • Airway (Jalan napas)
    Jika korban tidak responsif, buka jalan napas dengan metode menekan kepala dan mengangkat dagu. Langkah ini dilakukan untuk membantu membuka jalur udara korban.
  • Breathing (Pernapasan)
    Setelah membuka jalan napas, periksa pernapasan korban selama kurang lebih 10 detik. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan melihat pergerakan dada serta mendengarkan dan merasakan aliran napas. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah korban masih bernapas.
  • Circulation (Peredaran darah)
    Selain memeriksa jalan napas dan pernapasan, perhatikan pula kondisi peredaran darah korban. Dalam panduan tersebut, pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa denyut nadi dan napas korban.
 

Tindakan Jika Korban Tidak Bernapas

Setelah pemeriksaan pernapasan dan denyut nadi dilakukan, tindakan berikutnya disesuaikan dengan kondisi korban. Jika denyut nadi masih teraba, tetapi korban tidak bernapas, penolong perlu memberikan bantuan napas atau rescue breathing sesuai kemampuan dan pelatihan yang dimiliki.

Sementara itu, jika korban tidak bernapas dan denyut nadinya tidak teraba, tindakan yang perlu dilakukan adalah Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Kemampuan memberikan bantuan napas maupun melakukan CPR atau RJP tidak dapat dilakukan sembarangan karena memerlukan pelatihan. Penolong juga perlu tetap memperhatikan keselamatan diri dan segera meminta bantuan tenaga medis atau petugas penyelamat.

Dalam situasi darurat, pertolongan awal perlu dilakukan dengan tepat sambil menunggu tenaga medis atau tim penyelamat tiba di lokasi.

(Angel Rinella)

(Putri Purnama Sari)