Jamu Efektif Obati Hantavirus? Simak Penjelasan Dokter

Ilustrasi freepik

Jamu Efektif Obati Hantavirus? Simak Penjelasan Dokter

Muhamad Marup • 21 May 2026 18:46

Jakarta: Di tengah merebaknya isu terkait wabah hantavirus termasuk di Indonesia, masyarakat mulai bertanya terkait proses perawatannya. Salah satu yang identik dengan pengobatan di Indonesia adalah dengan cara meminum jamu.

Indonesia memiliki tradisi jamu yang kaya. Jahe, kunyit, temulawak, meniran, sambiloto, serai, dan berbagai tanaman obat mengandung senyawa bioaktif yang sering diteliti untuk potensi antioksidan, antiinflamasi, atau imunomodulator.

"Namun, sampai saat ini tidak ada bukti klinis kuat bahwa herbal atau jamu tertentu dapat membunuh hantavirus, menurunkan viral load, mencegah HFRS/HPS, atau menggantikan perawatan medis," ujar dokter lulusan Taipei Medical University Taiwan, Dito Anurogo, mengutip laman Kementerian Kesehatan, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menerangkan, jamu hanya boleh ditempatkan sebagai pendukung kebugaran umum pada orang yang aman mengonsumsinya, bukan sebagai terapi hantavirus. Menurutnya, klaim “jamu antivirus hantavirus” perlu ditolak bila tidak didukung uji klinis.

"Pasien dengan demam tinggi, sesak napas, urine berkurang, perdarahan, penurunan kesadaran, atau riwayat kontak dengan tikus harus segera diperiksa tenaga kesehatan. Menunda rujukan karena mengandalkan jamu dapat berbahaya," jelasnya.

Dito menekankan, keamanan juga penting. Beberapa herbal dapat berinteraksi dengan obat antikoagulan, antiplatelet, obat diabetes, obat tekanan darah, atau obat rutin lain.

Ia melanjutkan, asien hamil, menyusui, anak kecil, lansia rapuh, pasien gangguan hati, gangguan ginjal, batu empedu, maag berat, atau riwayat alergi perlu lebih hati-hati.

"Dalam hantavirus, ginjal dan pembuluh darah dapat terdampak; karena itu penggunaan herbal pekat tanpa pengawasan medis dapat menambah risiko," katanya.

Ilustrasi freepik



Dito menerangkan, pencegahan hantavirus tidak harus dimulai dari teknologi mahal. Prosesnya dimulai dari makanan yang tertutup, gudang yang berventilasi, sampah yang dikelola, selokan yang dibersihkan, APD untuk pekerja berisiko, dan dokter yang menanyakan riwayat paparan tikus.

"Senjata paling dekat adalah kebersihan ekologis, surveilans, literasi risiko, dan rujukan medis tepat waktu," ucapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)