Pahami 3 Kelemahan Sensorik Sapi Biar Tidak Mengamuk Saat Kurban

Ilustrasi. Foto: Dok. Istimewa.

Pahami 3 Kelemahan Sensorik Sapi Biar Tidak Mengamuk Saat Kurban

Muhammad Iqbal Sidiq • 20 May 2026 15:01

Jakarta: Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengimbau seluruh panitia kurban untuk mengenali karakteristik serta kelemahan sensorik pada hewan kurban menjelang pelaksanaan Iduladha. Memahami sensitivitas indra penglihatan, pendengaran, dan penciuman pada sapi dinilai menjadi kunci utama untuk menekan risiko stres sekaligus mencegah hewan mengamuk saat akan dieksekusi.

"Menenangkan hewan kita harus tahu apa yang membuat dia tidak tenang tadi dengan indra tiga tadi," ujar Asesor Juru Sembelih Halal di LSP Keswah PDH sekaligus Dosen IPB, Supratikno, pada acara sosialisasi Dinas KPKP DKI Jakarta di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.
 


Supratikno merinci tiga kelemahan indra pada sapi yang wajib diantisipasi oleh jajaran panitia di lapangan:

1. Indra Pendengaran (Telinga)
Banyak pihak keliru menganggap sapi mengalami stres karena melihat proses pengasahan pisau di depannya. Faktanya, tingkat kecemasan tertinggi pada sapi justru dipicu oleh suara bising di sekitarnya.

"Telinganya adalah dia tidak suka dengan bunyi frekuensi tinggi. Jadi penggunaan pengeras suara yang kalau memang tidak diperlukan, kenapa harus ada? Sapi tidak suka dengan suara toa," ungkap Supratikno.

2. Indra Penglihatan (Mata)
Sapi memiliki struktur mata di samping kepala dengan sudut pandang melebar namun samar-samar. Fungsi alami ini berguna untuk mendeteksi predator di alam liar, sehingga pergerakan terlalu banyak orang di sekitar tempat pemotongan akan langsung dibaca sebagai ancaman. Selain itu, sapi sangat sensitif terhadap paparan warna tertentu.

"Dia tidak suka dengan warna-warna gelombang panjang. Maka petugas yang menangani hewan hidup enggak boleh menggunakan seragam yang seperti itu (merah, kuning, oranye) karena bikin galak," jelasnya.

3. Indra Penciuman (Hidung)
Sapi dianugerahi penciuman yang sangat tajam dan mampu mendeteksi sinyal bahaya melalui aroma. Kondisi ini sering kali memicu kepanikan massal jika tempat penampungan sapi hidup diletakkan terlalu dekat dengan lokasi penjagalan.

"Aroma stres itu ada di darah bekas sembelihan. Maka dia akan mencium aroma stres tadi dan itu akan membuat dia gelisah," ucap Supratikno.


Asesor Juru Sembelih Halal di Lembaga Sertifikasi Profesi Kesehatan Hewan (LSP Keswan) sekaligus Dosen IPB, Supratikno. Foto: Metro TV/Muhammad Iqbal Sidiq.

Melalui pemahaman mendalam terhadap kelemahan tiga indra ini, panitia kurban diharapkan dapat mewujudkan proses penyembelihan yang aman, humanis (ihsan), sekaligus menghasilkan kualitas karkas daging yang prima dan higienis.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)