Konten Video Medsos Memudahkan Komunikasi Publik

Ilusutrasi media sosial (medsos). Foto: Medcom.id.

Konten Video Medsos Memudahkan Komunikasi Publik

M Sholahadhin Azhar • 1 August 2026 12:52

Jakarta: Konten video di media sosial disebut memudahkan komunikasi publik. Hal tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini, di tengah arus yang banyak memberikan informasi pada masyarakat.

“Apalagi masyarakat saat ini lebih menyukai konten yang ringan dibanding isu yang rumit," kata Direktur Literasi Politik Indonesia (LPI) Ujang Komarudin, dalam keterangan yang dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ujang mencontohkan lagu MBG tentang Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang lebih dahulu viral karena mudah diterima masyarakat. Menurutunya, lagunya enak didengar, disukai anak-anak, viral, sehingga Bahlil mendapatkan tempat tersendiri di mata publik.

Teranyar, konten serupa terkait Bahlil muncul kembali. Dalam konten itu, Bahlil digambarkan sebagai penyelamat energi Nusantara. Empat elemen alam divisualisasikan sebagai simbol pemanfaatan potensi energi bangsa untuk mendorong kesejahteraan rakyat Indonesia.

Dengan balutan efek visual layaknya film fantasi, video ini menutup kisahnya dengan sebuah penggambaran simbolis bahwa Indonesia memiliki Sang Avatar Nusantara, sosok yang disebut sebagai Kanda Bahlil, penjaga harmoni energi bagi Nusantara.

Fenomena tersebut muncul dari kreativitas publik, karena Ketua Umum Partai Golkar itu dinilai cekatan dalam menjalani pekerjaan sebagai menteri. Ujang menjelaskan, konten kreatif seperti lagu menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan tokoh maupun program pemerintah kepada masyarakat. 

Ia menilai masyarakat kini cenderung lebih mudah memahami informasi yang dikemas secara menghibur dibanding penjelasan yang terlalu berat.

"Konten yang dibuat kreator memudahkan masyarakat mengenal figur pejabat maupun program pemerintah. Kehidupan masyarakat sudah cukup berat, sehingga mereka lebih mudah menerima konten yang ringan dan menghibur, sedangkan konten yang terlalu berat biasanya akan dilewati," kata Ujang.

Menurut Ujang, media sosial kini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk opini publik hingga mendorong perubahan kebijakan.  Ia mencontohkan bagaimana media sosial pernah menjadi faktor penting dalam berbagai perubahan politik di dunia.

"Di Indonesia pun media sosial mampu menyederhanakan penyampaian kebijakan agar lebih mudah diterima, terutama oleh kalangan muda," ujar Ujang.

Ia mengatakan karakter generasi muda saat ini lebih menyukai informasi yang instan, sederhana, dan menghibur. Karena itu, konten kreatif dinilai menjadi pendekatan yang efektif untuk memperkenalkan tokoh maupun program pemerintah kepada publik.

"Generasi muda lebih menyukai konten yang sederhana dan tidak rumit. Karena itu, konten media sosial dibuat menghibur agar masyarakat lebih mengenal figur yang ditampilkan sekaligus melihat bagaimana program pemerintah dijalankan dan dirasakan manfaatnya," kata Ujang.

Lebih lanjut, ia menilai tingginya perhatian publik terhadap program pemerintah ikut mendorong lahirnya berbagai konten kreatif yang ringan. Konten semacam itu dinilai lebih mudah dinikmati sekaligus meningkatkan ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda.

"Konten yang ringan mendapatkan tempat di mata publik karena perhatian masyarakat terhadap program pemerintah juga tinggi. Akhirnya lahirlah berbagai konten yang sederhana dan mudah dinikmati, terutama oleh generasi muda," ujar Ujang.

Ujang menyebut era digital dapat digunakan pemerintah berkomunikasi dengan masyarakat melalui pendekatan yang lebih sederhana dan mudah dipahami.  Menurutnya, media sosial harus dimanfaatkan sebagai jembatan untuk menyampaikan program pemerintah secara objektif dan menjangkau masyarakat lebih luas.

"Media sosial menjadi instrumen penting untuk menyosialisasikan kebijakan yang baik dan menjangkau masyarakat secara lebih luas," kata Ujang.

(Anggi Tondi)