Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS Melemah, Pasar Tunggu Data Inflasi dan Sinyal The Fed
Eko Nordiansyah • 26 August 2026 08:23
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Selasa, 25 Agustus 2026, seiring penurunan imbal hasil (yield) obligasi Treasury dan meningkatnya minat terhadap aset berisiko. Pelaku pasar kini menunggu data inflasi AS untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari Investing, Rabu, 26 Agustus 2026, indeks dolar AS turun 0,1 persen ke level 98,93. Posisi tersebut berada di sekitar level terendah sejak pertengahan Mei.
Pergerakan dolar terjadi di tengah pemulihan pasar obligasi AS. Yield Treasury kembali turun selama dua hari berturut-turut setelah mengalami tekanan pada pekan sebelumnya.
Penurunan yield turut memberikan ruang bagi pasar saham, terutama saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga.
Yield Treasury jadi perhatian
Pergerakan pasar obligasi AS salah satunya dipengaruhi laporan mengenai kemungkinan penggunaan dana Treasury General Account (TGA) untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah AS berjangka panjang.Langkah tersebut dinilai dapat membantu menahan kenaikan yield, khususnya pada obligasi dengan tenor panjang.
Namun, prospek tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal AS. Total utang pemerintah AS telah melampaui USD40 triliun pada pekan sebelumnya.
Kondisi fiskal tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan investor dalam menentukan posisi terhadap aset berdenominasi dolar AS.
Di sisi lain, pasar kini mengalihkan perhatian pada data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS untuk Juli yang akan dirilis Rabu. Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Perhatian berikutnya akan tertuju pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat.
Kombinasi data inflasi dan pernyataan pejabat The Fed akan menjadi petunjuk bagi investor mengenai prospek suku bunga AS. Ekspektasi terhadap penurunan atau kenaikan suku bunga dapat memengaruhi daya tarik dolar sekaligus pergerakan yield Treasury. (Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Dolar Kanada pulih di tengah ketegangan dagang
Di pasar valuta asing lainnya, dolar Kanada menguat tipis terhadap dolar AS. Pasangan USD/CAD turun 0,1 persen ke level 1,3827.Penguatan tersebut terjadi setelah dolar Kanada melemah pada sesi sebelumnya akibat gagalnya perundingan perdagangan antara Washington dan Ottawa.
Amerika Serikat sebelumnya menerapkan tarif baru sebesar 50 persen terhadap impor Kanada senilai USD27,6 miliar. Kanada kemudian mengumumkan rencana tarif balasan yang akan berlaku mulai 8 September.
Tarif balasan tersebut mencakup produk yang juga dikenai tarif AS, dengan besaran tarif disesuaikan berdasarkan produk. Komoditas yang terdampak antara lain baja, produk susu, peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, pulp dan kertas, serta elektronik.
Perkembangan tersebut menambah faktor kebijakan perdagangan yang perlu diperhatikan pasar valuta asing karena perubahan tarif dapat memengaruhi arus perdagangan, pertumbuhan ekonomi, dan permintaan terhadap mata uang masing-masing negara.
Pergerakan mata uang global
Sementara itu, poundsterling naik 0,1 persen menjadi USD1,3650, didukung imbal hasil obligasi pemerintah Inggris dan data sektor jasa.Euro juga menguat 0,1 persen menjadi USD1,1674. Penguatan tersebut terjadi ketika pasar mencermati pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahunan Jerman yang mencapai 1,0 persen, lebih tinggi dari perkiraan.
Yen Jepang bergerak relatif stabil terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY berada di level 159,10.
Dolar Australia menguat 0,2 persen menjadi USD0,7164 setelah risalah pertemuan Agustus Bank Sentral Australia menunjukkan perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan mengenai prospek suku bunga.
Dengan demikian, arah dolar AS dalam jangka pendek masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan inflasi, kebijakan The Fed, pergerakan yield Treasury, serta kondisi fiskal dan perdagangan AS.
(1).jpg)