Fondasi Ekonomi Dinilai Masih Kuat di Balik Pergerakan Rupiah

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.

Fondasi Ekonomi Dinilai Masih Kuat di Balik Pergerakan Rupiah

Deny Irwanto • 7 May 2026 07:19

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi perhatian. Namun di balik dinamika tersebut, fondasi ekonomi domestik dinilai tetap menunjukkan kekuatan. Kondisi ini memberi harapan, daya beli masyarakat masih dapat terjaga di tengah perubahan global.

Ekonom Surya Vandiantara menilai, pergerakan rupiah saat ini bukan disebabkan faktor internal. Ia menjelaskan secara teori, tekanan dari dalam negeri biasanya dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang melemah atau tingginya impor yang menyebabkan defisit neraca perdagangan. Namun data menunjukkan kondisi yang berbeda.

"Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi YoY triwulan I-2026 berjalan positif di angka 5,61 persen, begitu pula triwulan IV-2025 5,39 persen, dan triwulan III-2025 5,04 persen. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri memiliki tren positif dan stabil," kata pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini, dikutip Rabu, 6 Mei 2026.

Aktivitas ekspor lebih tinggi dari impor


Selain itu, neraca perdagangan juga mencatat kinerja yang positif. Surplus yang terjadi menunjukkan aktivitas ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor. Sehingga tekanan terhadap nilai tukar dari sisi perdagangan relatif terkendali.

"Mengingat pertumbuhan ekonomi yang positif dan stabil, serta neraca perdagangan yang surplus, maka itu bukan karena faktor internal dan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap daya beli masyarakat," jelas dia.

Dari sisi utang luar negeri, posisi Indonesia juga dinilai masih dalam batas aman. Berdasarkan data Bank Indonesia, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto berada di bawah ambang batas yang umumnya digunakan dalam teori ekonomi.

Rupiah. Foto: dok MI.


"Berbagai teori ekonomi mencoba memberikan ambang batas rasio kesehatan utang. Ambang batas rasio biasanya ditetapkan sepertiga atau 40% dari total pendapatan. Laporan Bank Indonesia yang menyatakan rasio ULN terhadap PDB diangka 29,8 persen, menunjukkan rasio ULN di bawah sepertiga ataupun dibawah 40 persen dari total PDB, sehingga bisa disimpulkan ULN masih dalam ambang batas aman," kata dia.

Ia juga menambahkan, dominasi utang jangka panjang menjadi faktor yang memperkuat kondisi tersebut, karena memberikan ruang pembayaran yang lebih longgar dalam setiap periode.

"Dominasi ULN jangka panjang yang mencapai 84,9 persen semakin memperkuat penilaian sehat atas ULN Indonesia," ujar Surya.

Dengan sejumlah indikator yang masih terjaga, dinamika nilai tukar rupiah dinilai sebagai bagian dari pergerakan global, bukan cerminan melemahnya kondisi dalam negeri. Di tengah perubahan tersebut, stabilitas ekonomi diharapkan tetap mampu menopang daya beli dan aktivitas masyarakat secara berkelanjutan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Deny Irwanto)