Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Metrotvnews.com/Kautsar
Jaga Stabilitas Rupiah, Pemerintah Siapkan Penerbitan Panda Bond di Tiongkok
Kautsar Widya Prabowo • 6 May 2026 09:22
Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Salah satunya melalui penerbitan instrumen utang berbasis yuan atau Panda Bond di pasar keuangan Tiongkok.
Purbaya menjelaskan kebijakan ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi sumber pembiayaan negara agar tidak terlalu bergantung pada mata uang dolar Amerika Serikat. Dengan masuk ke pasar obligasi Tiongkok, pemerintah berharap dapat memperoleh pembiayaan dengan bunga yang lebih kompetitif.
“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam Panda Bond di Cina dengan bunga yang lebih rendah, sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan,” ujar Purbaya usai hadiri rapat dengan Presiden Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, Selasa malam, 5 Mei 2026.
Menurut dia, langkah diversifikasi ini akan memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global. Dia optimistis prospek ekonomi Indonesia tetap solid ke depan.
“Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua nggak usah takut,” lanjut dia.

Ilustrasi uang rupiah. Dok. MI
Baca Juga:
BI Sebut Gerak Rupiah Sejalan dengan Mayoritas Negara Berkembang |
Purbaya juga menyampaikan pesan dari Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi keuangan negara yang tetap kuat.
“Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak, jadi Anda nggak usah takut,” kata dia.
Selain itu, Purbaya optimisme terhadap kinerja ekonomi nasional yang menunjukkan tren akselerasi. Hal ini menyusul capaian terbaru pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian sebelumnya sebesar 5,39 persen.
“Yang pertama dari angka pertumbuhan ekonomi tadi yang keluar hari ini 5,61 itu kita diskusikan dengan Bapak Presiden bahwa kita memang sudah bisa membalik arah ekonomi. Dulu kan sebelumnya 5,39 sekarang 5,61 dibandingkan sebelum-sebelumnya 5 atau di bawah 5 sedikit kan. Jadi ekonomi kita sedang mengalami akselerasi,” jelas dia.