Podium MI: Gharbzadegi

Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI/Ebet.

Podium MI: Gharbzadegi

Abdul Kohar • 10 March 2026 05:32

PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi. Istiliah itu mula-mula diperkenalkan Jalal Al-e Ahmad, intelektual Iran lainnya. Dalam bahasa Inggris, istilah itu dimaknai sebagai westoxication, penyakit terpesona oleh Barat.

Ketika itu, usia kekuasaan rezim Shah Reza Pahlevi di Iran berada di 'ujung senja'. Menurut Shariati, sebagian elite muslim mengalami 'keracunan Barat'. Mereka meniru gaya hidup Barat secara membabi buta, merasa inferior terhadap Barat, dan meninggalkan akar budaya serta spiritual Islam.

Pandangan itu menemukan fakta pada perilaku keluarga Shah Iran dan lingkaran dekatnya. Sejak Shah Reza Pahlevi naik takhta menggantikan Mohammad Mossadegh, Iran menjadi sekutu Barat dengan Amerika Serikat sebagai 'pemimpin' mereka. Lingkaran dan elite Shah hidup mewah, tapi rakyat Iran menderita. Kesenjangan makin menganga. Shariati tidak menolak modernitas, tetapi menolak peniruan tanpa kritik seperti itu.

Ketika itu, usia kekuasaan rezim Shah Reza Pahlevi di Iran berada di 'ujung senja'. Menurut Shariati, sebagian elite muslim mengalami 'keracunan Barat'. Mereka meniru gaya hidup Barat secara membabi buta, merasa inferior terhadap Barat, dan meninggalkan akar budaya serta spiritual Islam.

Pandangan itu menemukan fakta pada perilaku keluarga Shah Iran dan lingkaran dekatnya. Sejak Shah Reza Pahlevi naik takhta menggantikan Mohammad Mossadegh, Iran menjadi sekutu Barat dengan Amerika Serikat sebagai 'pemimpin' mereka. Lingkaran dan elite Shah hidup mewah, tapi rakyat Iran menderita. Kesenjangan makin menganga. Shariati tidak menolak modernitas, tetapi menolak peniruan tanpa kritik seperti itu.

Buku The Last Shah: America, Iran, and the Fall of the Pahlavi Dynasty karya Ray Takeyh menulis lengkap studi sejarah tentang runtuhnya monarki Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlevi dan bagaimana hubungan Iran-Amerika Serikat berkembang dari sekutu dekat menjadi permusuhan setelah Revolusi Iran 1979.

Takeyh menggambarkan Shah sebagai penguasa yang autokratis, tetapi tidak tegas. Ia menuntut loyalitas penuh, tetapi sering ragu mengambil keputusan besar dan tidak membangun sistem politik yang stabil.

Shah, menurut buku itu, terlalu memusatkan kekuasaan, menyingkirkan elite politik yang berpengalaman, bergantung pada teknokrat dan aparat keamanan, gagal membangun legitimasi politik yang luas. Modernisasi ala Shah menciptakan ketegangan sosial. Program modernisasi Shah, terutama White Revolution, memang membawa perubahan besar berupa reformasi tanah, industrialisasi pendidikan modern, dan emansipasi perempuan.

Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Foto: Press TV.

Namun, modernisasi itu juga melemahkan elite tradisional, memicu ketidakpuasan ulama, menciptakan ketimpangan sosial, dan urbanisasi cepat. Akibatnya, berbagai kelompok seperti ulama, mahasiswa, intelektual, dan kelas menengah mulai beroposisi.

Potret itu pula yang dikritisi Ali Shariati. Bagi Shariati, peradaban Barat modern terlalu menekankan materialisme, individualisme, juga konsumerisme. Ia menilai sistem kapitalisme global yang banyak dipimpin Amerika Serikat sering menghasilkan ketimpangan sosial dan eksploitasi negara berkembang. Karena itu, ia mencoba merumuskan Islam sebagai ideologi pembebasan, yang berpihak pada kaum tertindas (mustadh'afin).

Ide-ide Shariati, juga Jalal Al-e Ahmad, sangat mengkristal dan memengaruhi gerak rakyat Iran untuk menumbangkan rezim korup pro-Barat, Shah Iran. Shariati sendiri wafat pada 1977, dua tahun sebelum pecah Revolusi Islam Iran. Namun, spirit pembebasannya menggerakkan, bahkan hidup terus hingga kini, lima dekade kemudian.

Dalam pandangan banyak elite dan rakyat Iran, Barat dan Amerika Serikat bukan sekadar kekuatan politik yang ingin mendominasi, melainkan juga sudah menjelma racun yang mematikan. Keyakinan itu mendarah daging hingga kini dan dijadikan 'modal sosial politik' rezim para mullah Iran. Karena itu, tidak mengherankan kenyataan itu sampai membuat Presiden AS Donald Trump masygul. Trump mengira, dengan membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, rezim Iran akan runtuh, untuk secepatnya digantikan sosok yang 'pro-Barat'. Namun, langkah Trump justru membuat perlawanan kian solid.

Terpilihnya Motjtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru di Iran dan sangat tidak dikehendaki Trump ialah bukti bahwa perlawanan terhadap gharbzadegi (racun Barat) sangat kental. Ia serupa tantangan terbuka terhadap Trump, Israel, dan para sekutu mereka. Motjaba Khamenei, sosok yang jarang muncul ke publik, diyakini akan meneruskan jalur 'garis keras' yang diwariskan ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei.

Upaya Trump untuk mengganti rezim mullah berdasarkan wilayatul faqih untuk sementara gagal total. Trump mula-mula menginginkan pengganti Khamenei ialah mereka yang siap bersekutu dengan Barat layaknya Shah Reza Pahlevi.

Namun, karena tampak mulai 'mustahil', Trump 'agak mundur' dengan tawaran, "silakan Iran tetap dipimpin berdasarkan wilayatul faqih (pemimpin politik sekaligus punya kriteria ulama ahli fikih), tapi Amerika ikut menentukan, dari kalangan 'garis lentur', bukan Mojtaba".

Dengan demikian, kiranya perlawanan Iran bakal berlangsung panjang, sepanjang 'ajaran' gharbzadegi, Barat itu racun, tetap hidup.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)