Ilustrasi Susu formula. Foto: Medcom.id/AFP
Buntut Kasus Susu Nestle, Pemerintah Diminta Buat Sistem Laporan Satu Pintu
Rona Marina Nisaasari • 15 January 2026 18:42
Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pemerintah membuat sistem laporan satu pintu yang dapat diakses konsumen untuk menjamin keamanan produk pangan. Hal ini menindaklanjuti adanya dugaan bakteri berbahaya pada susu formula (sufor) dalam produk Nestle.
“Kalau ada sistem pelaporan satu pintu, di mana konsumen seharusnya bisa melaporkan apabila ada dugaan produk yang tidak aman untuk mereka," ujar Pengurus Harian YLKI Rafika Zulfa, kepada Metrotvnews.com, Kamis, 15 Januari 2026.
Dia juga menilai perlu adanya pengembangan teknologi agar produsen bisa melacak atau mengakses produk tersebut sampai ke tangan konsumen. Sehingga, proses investigasi bisa dilakukan secara menyeluruh dan tepat sasaran.
Sanksi Tegas
Dalam kasus temuan dugaan bakteri berbahaya pada sufor produk Nestle, Rafika menilai perlu ada sanksi tegas kepada pelaku usaha agar memberikan efek jera. Apalagi, dugaan tersebut terjadi pada kandungan susu untuk bayi dan balita.
“Harusnya tidak hanya sanksi administratif saja, pemerintah perlu memastikan adanya sanksi yang proporsional dan menimbulkan efek jera bagi pelaku usaha yang tidak menerapkan praktik perlindungan hak konsumen," tegas dia.
Baca Juga:
BPOM Perintahkan Nestle Indonesia Setop Sementara Distribusi Susu Formula |
Dia menekankan negara harus memprioritaskan upaya perlindungan konsumen, khususnya untuk produk bayi. Keamanan produk tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan bisnis, terutama produk pangan yang seharusnya zero cemaran.
"Setiap kelemahan sistem harus segera dibenahi demi hak konsumen atas keamanan, informasi, dan keselamatan,” kata Rafika.
Tunduk pada Standar Pengawasan

Nestle putuskan untuk perluas cakupan penarikan sejumlah produk formula bayi. Foto: EFE-EPA
Baca Juga:
Ditarik, Distribusi Susu Formula Bayi S-26 Promil Gold Dihentikan |
YLKI mendukung langkah penarikan produk sufor Nestle yang mengandung cereulide dan bakteri Bacillus cereus dari pasaran. Produk sufor tersebut dinilai rentan untuk bayi dan balita yang belum memiliki daya tahan tubuh maupun kemampuan memilih produk secara mandiri.
YLKI menegaskan produk bayi, termasuk sufor, harus tunduk pada standar pengawasan yang jauh lebih ketat daripada produk pangan umum.
“Dengan sistem pengawasan dan keamanan pangan yang baik maka kepercayaan orang tua bisa terjamin dalam memilih produk susu untuk bayi mereka,” ujar Rafika.