Rektor Universitas Pertamina Ichsan Setya Putra. Foto: dok Universitas Pertamina.
Universitas Pertamina Siapkan SDM Hadapi Transformasi Energi
Husen Miftahudin • 22 September 2026 13:39
Jakarta: Universitas Pertamina (UPER) menyambut 140 mahasiswa baru Program Pascasarjana yang terdiri atas 92 mahasiswa Program Magister Manajemen dan 48 mahasiswa Program Magister Sains. Kehadiran mahasiswa baru tersebut menjadi bagian dari pengembangan pendidikan pascasarjana yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri, perkembangan teknologi, dan tantangan pembangunan berkelanjutan.
Rektor Universitas Pertamina Ichsan Setya Putra mengatakan pendidikan pascasarjana tidak hanya berorientasi pada pencapaian kualifikasi akademik. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kompetensi, kapasitas kepemimpinan, jejaring profesional, serta kemampuan menghasilkan solusi berbasis pengetahuan.
"Pada jenjang pascasarjana, mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada penyelesaian tugas, penelitian, tesis, ataupun memperoleh gelar. Pengetahuan yang dikembangkan harus diarahkan pada penyelesaian persoalan nyata dan menghasilkan dampak," kata Ichsan seperti dikutip dari siaran pers, Selasa, 22 September 2026.
Menurut dia, dunia industri menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari transformasi teknologi dan transisi energi hingga persoalan sosial serta lingkungan.
Karena itu, pendidikan pascasarjana perlu mendorong kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan berbasis bukti, dan kolaborasi lintas disiplin. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi organisasi, industri, dan masyarakat.
Komitmen tersebut diperkuat melalui pengembangan kurikulum pascasarjana Universitas Pertamina menjadi 36 satuan kredit semester (SKS) dengan skema pembelajaran hibrida.
Skema tersebut dirancang untuk memberikan fleksibilitas dalam proses pembelajaran sekaligus menyesuaikan kebutuhan mahasiswa profesional. Kedalaman akademik dan mutu pembelajaran tetap menjadi bagian dari pelaksanaan program.

(Universitas Pertamina menyambut 140 mahasiswa baru Program Pascasarjana. Foto: Universitas Pertamina)
Dorong wawasan industri energi
Dalam kesempatan yang sama, mahasiswa mendapatkan pemaparan mengenai perkembangan industri energi dari Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti.
Materi bertajuk Shaping Indonesia’s Future: The Role of Knowledge, Innovation, and Leadership in Sustainable Transformation tersebut membahas peran pengetahuan, inovasi, dan kepemimpinan dalam menghadapi transformasi sektor energi.
Hana menjelaskan transformasi energi membutuhkan keseimbangan antara ketahanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Pertamina menjalankan sejumlah strategi untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon.
Salah satu inovasi yang dikembangkan ialah bahan bakar nabati atau biofuel, seperti FAME, bioetanol, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pengembangan biofuel tersebut memanfaatkan berbagai sumber daya domestik, termasuk tebu, sorgum, jagung, singkong, aren, minyak jelantah, serta limbah pertanian dan perkotaan sebagai bahan baku energi berkelanjutan.
Ichsan menilai, pemaparan tersebut menunjukkan pentingnya keterhubungan antara perguruan tinggi dan industri dalam menghadapi transformasi energi. Menurut dia, transformasi sektor energi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknologi, tetapi juga kepemimpinan, kompetensi manajerial, pendekatan lintas disiplin, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Semangat kolaborasi juga menjadi bagian dari pengembangan ekosistem bioenergi. Pertamina menggunakan pendekatan pentahelix untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari ketersediaan bahan baku, pengembangan teknologi dan infrastruktur, kelayakan teknis, regulasi, hingga pembentukan pasar bioenergi.
Melalui pendidikan yang terhubung dengan kebutuhan industri, Universitas Pertamina turut mengarahkan pengembangan pendidikan pada sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pendidikan, energi bersih, inovasi, aksi iklim, dan kemitraan.
Upaya tersebut juga dikaitkan dengan Asta Cita, khususnya swasembada energi, pengembangan ekonomi hijau, hilirisasi, serta penguatan industri nasional menuju Indonesia Emas 2045.