Trump Janji Cabut Sanksi CAATSA terhadap Turki dan Pertimbangkan Jual Jet F-35

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Trump Janji Cabut Sanksi CAATSA terhadap Turki dan Pertimbangkan Jual Jet F-35

Willy Haryono • 8 July 2026 12:46

Ankara: Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji akan mencabut sanksi berdasarkan Undang-Undang Penanggulangan Musuh Amerika melalui Sanksi (CAATSA) yang dijatuhkan kepada Turki sejak 2020.

Pernyataan itu disampaikan saat bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di sela Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (KTT NATO) di Ankara pada Selasa, 7 Juli 2026.

Trump mengatakan pemerintahannya tengah berkoordinasi dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menyelesaikan proses pencabutan sanksi tersebut.

"Kami akan mencabut sanksi itu. Kami tidak ingin menjatuhkan sanksi kepada negara sahabat," ujar Trump kepada wartawan, dikutip dari media Anadolu Agency, Selasa, 7 Juli 2026.

Meski demikian, berdasarkan hukum Amerika Serikat, presiden tidak dapat mencabut sanksi CAATSA secara permanen tanpa melalui prosedur tertentu di Kongres. Sanksi tersebut dijatuhkan kepada Turki pada 2020 setelah Ankara membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia.

Trump juga mengatakan akan "mempertimbangkan dengan serius" pemulihan penjualan jet tempur F-35 kepada Turki. Ia menyebut Turki sebagai negara yang "jauh lebih loyal dibandingkan negara lain", menggambarkan F-35 sebagai pesawat tempur terbaik, serta menilai Amerika Serikat memiliki kewajiban untuk tetap mendukung peralatan militer yang telah dijual kepada negara mitranya.

Trump turut menepis kekhawatiran mengenai pembelian sistem pertahanan rudal S-400 oleh Turki yang selama ini menjadi hambatan penjualan F-35. Menurutnya, hubungan Amerika Serikat dan Turki kini berada dalam kondisi yang mungkin lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Kekuatan Militer dan Hubungan Trump-Erdogan

Trump memuji Erdogan sebagai pemimpin besar yang dihormati di seluruh dunia. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Erdogan, Turki telah berkembang menjadi negara dengan kekuatan militer yang sangat kuat dan disegani.

Trump mengatakan dirinya dan Erdogan telah memiliki hubungan yang baik sejak masa jabatan pertamanya sebagai presiden Amerika Serikat. Ia menambahkan rasa saling menghormati di antara keduanya membawa manfaat bagi hubungan kedua negara.

Mediasi Rusia-Ukraina dan Situasi Suriah

Trump mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sama-sama ingin mengakhiri perang yang berlangsung sejak 2022. Ia mengaku prihatin karena sekitar 35.000 tentara dilaporkan tewas hanya dalam satu bulan terakhir, serta menyebut konflik tersebut telah berubah menjadi perang yang didominasi penggunaan drone.

"Ini adalah pembantaian dan harus dihentikan," kata Trump. Ia optimistis penyelesaian konflik dapat tercapai dalam waktu dekat dan menyebut Erdogan saat ini turut membantu upaya mediasi antara Moskow dan Kyiv.

Trump juga memuji Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa atas keberhasilannya menstabilkan Suriah selama 18 bulan terakhir. Ia mengatakan Sharaa telah berhasil menyatukan kembali negaranya dan dijadwalkan bertemu dengannya pada Rabu, 8 Juli 2026.

Gesekan di Dalam NATO

Trump mengaku kecewa terhadap sejumlah anggota NATO, terutama Prancis, Jerman, dan Italia, karena tidak memberikan bantuan kepada Amerika Serikat saat perang dengan Iran. Ia mengklaim sengaja mengamati apakah negara-negara tersebut benar-benar akan memberikan dukungan kepada Washington.

Trump juga mengatakan kemungkinan tidak akan menghadiri KTT NATO apabila pertemuan itu tidak digelar di Turki. Menurutnya, kehadirannya dipengaruhi oleh hubungannya dengan Erdogan yang ia sebut sebagai sahabat sekaligus pemimpin yang sangat kuat.

Peringatan soal Imigrasi dan Energi di Eropa

Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat menarik seluruh pasukannya dari Eropa. Menurutnya, Eropa menghadapi ancaman yang sangat serius akibat persoalan imigrasi dan energi.

Ia menilai apabila kedua persoalan tersebut tidak ditangani dengan baik, masa depan Eropa akan terancam. Trump juga kembali menyatakan keinginannya agar Greenland berada di bawah kendali Amerika Serikat, bukan Denmark, karena dianggap memiliki kepentingan strategis bagi Washington. (Keysa Qanita)

Baca juga:  KTT NATO Dimulai di Ankara, Anggaran Pertahanan dan Isu Ukraina Jadi Sorotan

(Willy Haryono)