Emas batangan. Foto: Goldmarket.fr
Harga Emas Masih Punya Peluang Naik Lagi Meski Sempat Tergelincir
Husen Miftahudin • 11 February 2026 11:41
Jakarta: Harga emas dunia pada perdagangan hari ini diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat, meskipun tekanan jangka pendek masih membayangi pergerakan logam mulia tersebut. Emas (XAU/USD) tercatat berbalik melemah pada sesi perdagangan Selasa setelah investor merespons data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih buruk dari perkiraan.
Data tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengurangi posisi jual terhadap dolar AS, sehingga secara tidak langsung menekan harga emas. Kendati demikian, pelemahan yang terjadi masih relatif terbatas, dengan harga emas mampu bertahan di atas level psikologis penting USD5.000 per troy ons dan diperdagangkan di kisaran USD5.022 atau turun sekitar 0,72 persen.
Menurut analisis Dupoin Futures Andy Nugraha selaku analis, pergerakan harga emas saat ini menunjukkan struktur teknikal yang masih konstruktif. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average mengindikasikan tren bullish pada XAU/USD justru semakin menguat.
"Kondisi ini mencerminkan minat beli terhadap emas masih cukup solid, terutama setelah koreksi tajam yang terjadi sebelumnya," ungkap Andy seperti dikutip dari analisis harian Dupoin Futures, Rabu, 11 Februari 2026.
Dari sudut pandang teknikal, lanjut Andy, fase penurunan yang terjadi saat ini lebih bersifat koreksi sehat dalam tren naik yang lebih besar, bukan sinyal pembalikan arah secara keseluruhan.
Andy menjelaskan, selama harga emas mampu bertahan di atas area support kunci, potensi kenaikan lanjutan masih terbuka lebar. Jika tekanan bullish berlanjut dan didukung oleh sentimen global, XAU/USD berpeluang menguat hingga menguji area resistance di sekitar level USD5.232.
Namun demikian, ia juga mengingatkan apabila harga gagal melanjutkan kenaikan dan kembali mengalami koreksi, maka potensi penurunan terdekat berada di sekitar level USD4.841, yang menjadi area support penting untuk menjaga struktur tren naik tetap utuh.
| Baca juga: Meski Tergelincir, Harga Emas Dunia Masih di Atas USD5.000/Ons |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Risiko geopolitik jadi pendorong harga emas
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih datang dari stabilnya dolar AS dan meningkatnya selera risiko pasar. Pada sesi awal Asia di hari Rabu, harga emas tercatat melemah mendekati level USD5.045 seiring pelaku pasar menilai apakah logam mulia tersebut telah menemukan titik terendah pasca aksi jual besar-besaran yang terjadi sebelumnya. Indeks Dolar AS (DXY) yang relatif datar di kisaran 96,78 turut menjadi faktor penahan bagi laju kenaikan emas dalam jangka pendek.
Meski demikian, risiko geopolitik tetap menjadi faktor pendukung utama bagi harga emas. Ketegangan yang berkelanjutan antara AS dan Iran mendorong investor tetap mempertahankan aset safe haven seperti emas.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi aksi militer terhadap Iran, serta dinamika diplomatik di kawasan Timur Tengah, menciptakan ketidakpastian global yang berpotensi membatasi penurunan harga emas lebih dalam.
Selain itu, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data ketenagakerjaan dan inflasi AS. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang tertunda diperkirakan menunjukkan kenaikan tenaga kerja sebesar 70 ribu pada Januari, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,4 persen.
Sementara itu, data inflasi CPI yang akan dirilis akhir pekan ini juga menjadi penentu arah kebijakan Federal Reserve ke depan. Jika data menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja atau inflasi yang lebih rendah, dolar AS berpotensi melemah dan membuka ruang penguatan lanjutan bagi harga emas.
"Secara keseluruhan, pergerakan harga emas hari ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan bias bullish. Selama faktor geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter tetap mendukung, emas berpeluang kembali melanjutkan tren kenaikan, meskipun volatilitas jangka pendek masih perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar," terang Andy.