Ilustrasi: Petani menanam padi di area genangan Waduk Saradan, Madiun, Jawa Timur, Sabtu, 19 September 2026. ANTARA FOTO/Muhammad Mada/YU
60 Hari Tanpa Hujan, Sebagian Wilayah Jawa Timur Kekeringan Ekstrem
Faishol Taselan • 11 October 2026 16:49
Surabaya: Jawa Timur kini berstatus waspada setelah sebagian besar wilayahnya mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut dengan kategori kekeringan ekstrem. Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur, kondisi tersebut dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, mengungkapkan kekeringan ekstrem ditetapkan pada wilayah yang tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari. Kondisi ini dipantau melalui tiga peta BMKG, yakni monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut, distribusi curah hujan dasarian I Oktober 2026, dan prediksi curah hujan dasarian II Oktober 2026.
“Wilayah Jawa Timur sebagian dari data yang ada masuk dalam kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut dengan kriteria ‘Kekeringan Ekstrem’, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan,” ujar Taufiq di Surabaya, Minggu, 11 Oktober 2026.
BMKG mencatat distribusi curah hujan pada Dasarian I Oktober 2026 di Jawa Timur secara umum berada pada kategori “Rendah”. Tren ini diprediksi tidak akan banyak berubah pada periode berikutnya.
Secara deterministik, curah hujan pada Dasarian II Oktober 2026 diperkirakan tetap rendah. BMKG menyebut peluang (probabilistik) terjadinya kondisi curah hujan rendah tersebut mencapai lebih dari 90 persen.
Kekeringan panjang ini merupakan kelanjutan dari tren yang terjadi sejak pertengahan tahun. Pada September 2026, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun sempat mencatatkan rekor periode tanpa hujan terpanjang di Indonesia, mencapai 139 hari berturut-turut.

Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/agr
Menyikapi kondisi meteorologis ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak turunan yang mungkin terjadi, di antaranya:
- Kelangkaan atau krisis air bersih untuk kebutuhan domestik.
- Penurunan produktivitas lahan pertanian akibat kekurangan irigasi.
- Meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang vegetasinya sudah sangat kering.
Masyarakat diharapkan dapat menghemat penggunaan air dan menghindari aktivitas yang dapat memicu percikan api di area terbuka. Langkah ini guna mencegah kebakaran lahan yang lebih luas.