Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. Foto: The New York Times
Wapres AS Salahkan Perang dengan Iran Penyebab Kekalahan di Pemilu Sela
Fajar Nugraha • 5 November 2026 06:24
Washington: Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance secara tegas menyalahkan perang dengan Iran sebagai penyebab kekalahan telak Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu.
Pernyataan ini merupakan penyimpangan yang mencolok dari sikap Presiden Donald Trump, yang justru membela keputusannya untuk melancarkan serangan tersebut.
"Alasannya kita kalah adalah karena perang itu," tulis Vance, seperti dikutip dari The New York Times, Kamis 5 November 2026.
"Presiden sendiri yang mengatakannya tadi malam. Jika Anda ingin berargumen bahwa perang itu sepadan -,bahwa kehilangan kendali atas Senat selama 6 tahun ke depan adalah harga yang pantas dibayar,- silakan saja. Argumenkanlah bahwa itu adalah pengorbanan yang setimpal. Setuju atau tidak, setidaknya itu adalah sikap yang jujur,” imbuh Vance.
Faktanya, pada Selasa malam, Trump mengatakan kepada The New York Times bahwa ia sama sekali tidak menyesali perang tersebut, meskipun ia mengakui bahwa para pemilih "tidak senang dengan harga minyak."
"Itu adalah keputusan yang sangat bijak demi masa depan negara ini dan dunia," ujar Trump.
Sejak terpilih sebagai pasangan calon Trump, Vance secara luas dianggap sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Trump dan meneruskan gerakan Make America Great Again yang digagas oleh sang presiden. Namun, setelah hasil pemilu yang membawa bencana pada Selasa, Partai Republik kini mulai memikirkan kembali masa depan partai tersebut. Unggahan Vance mengisyaratkan bahwa ia bersedia untuk menjaga jarak dari Trump seraya mempertimbangkan masa depan politiknya sendiri.
Meski demikian, unggahan tersebut bukanlah pemutusan hubungan sepenuhnya dengan Trump. Menurut seseorang yang mengetahui masalah ini, sebelum memublikasikan pesan tersebut, Vance sempat membagikannya kepada Trump dan menerima tanggapan positif.
Pada Rabu sore, Trump juga mengatakan kepada para wartawan bahwa penilaian Vance "sebagian besar benar."
"Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan tetap melakukannya," kata Trump, seraya menambahkan bahwa ia "tidak punya pilihan" selain menyerang Iran.
Selain itu, Trump juga melontarkan spekulasi mengenai apakah Vance akan maju sebagai calon presiden di masa depan.
“Mungkin dia tidak akan mencalonkan diri. Saya tidak tahu siapa yang akan mencalonkan diri,” kata Trump.
Sebelum Selasa, sekutu-sekutu Vance mengatakan bahwa sang wakil presiden tidak terburu-buru untuk mengambil keputusan terkait pencalonan sebagai presiden, dan kemungkinan besar ia tidak akan melakukannya hingga tahun depan.
Dalam unggahannya di media sosial, Vance menyatakan bahwa banyak pemilih yang mendukung dirinya dan Trump memang datang ke tempat pemungutan suara, namun mereka justru memilih kandidat dari Partai Demokrat.
Ia menyebutkan bahwa seorang pakar jajak pendapat dari Partai Republik -,yang ia gambarkan sebagai “salah satu orang paling cerdas yang saya kenal di dunia politik”,- telah mengidentifikasi empat alasan utama mengapa para pemilih meninggalkan Partai Republik: keinginan untuk mengakhiri perang, fokus pada masalah inflasi, mengutamakan kepentingan Amerika, serta mengubah hubungan negara tersebut dengan Israel.
Hal ini secara implisit menempatkan Vance dalam posisi yang berseberangan dengan Trump, yang selama ini gigih membela perang dengan Iran, menepis kekhawatiran mengenai keterjangkauan harga sebagai sebuah “kebohongan” (hoaks), serta menjalin hubungan yang sangat erat dengan Israel dan pemimpinnya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
“Semua orang tahu mengapa kita kalah,” tulis Vance.
“Dan setiap diskusi yang jujur mengenai langkah kita ke depan harus dimulai dari titik tersebut,” pungkas Vance.