AS Serang Kapal yang Diduga Membawa Narkoba di Pasifik, 4 Orang Tewas

AS menyerang sebuah kapal selam di Karibia pada Kamis, 16 Oktober 2025. (@realDonaldTrump/Truth Social)

AS Serang Kapal yang Diduga Membawa Narkoba di Pasifik, 4 Orang Tewas

Willy Haryono • 15 April 2026 14:27

Washington: Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara terhadap kapal yang diduga mengangkut narkotika di Samudra Pasifik bagian timur pada Selasa kemarin, yang menewaskan setidaknya empat orang.

Dikutip dari Independent, Rabu, 15 April 2026, insiden ini menjadi serangan keempat yang diumumkan dalam beberapa hari terakhir, sekaligus menambah total korban jiwa menjadi sekitar 175 orang sejak operasi dimulai pada September tahun lalu.

Operasi tersebut merupakan bagian dari kampanye militer pemerintahan Presiden Donald Trump yang menargetkan kapal-kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba di perairan Amerika Latin.

Komando Selatan AS merilis rekaman udara yang memperlihatkan sebuah kapal kecil yang terombang-ambing sebelum dihantam proyektil dan meledak.

Militer mengklaim kapal-kapal tersebut dioperasikan oleh organisasi yang ditetapkan sebagai kelompok teroris dan melintas di jalur penyelundupan narkoba yang telah diketahui.

Namun, otoritas militer tidak memberikan bukti rinci untuk mendukung klaim tersebut.

Kampanye Militer dan Kontroversi

Kampanye ini telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan dan tetap berlanjut meskipun fokus militer AS saat ini terbagi dengan konflik di Timur Tengah.

Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat berada dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba di Amerika Latin, dan menyebut serangan tersebut sebagai langkah yang diperlukan untuk menekan aliran narkoba serta angka kematian akibat overdosis di dalam negeri.

Meski demikian, sejumlah pihak mempertanyakan legalitas dan efektivitas operasi tersebut. Kritikus menilai penggunaan kekuatan militer di luar konteks perang dapat melanggar hukum internasional, terutama karena tidak ada bukti jelas bahwa target merupakan ancaman langsung.

Efektivitas Dipertanyakan

Selain aspek hukum, efektivitas strategi ini juga menjadi sorotan. Para analis menilai sebagian besar fentanyl, zat yang menjadi penyebab utama kematian akibat overdosis di AS, justru diselundupkan melalui jalur darat dari Meksiko, bukan melalui jalur laut yang menjadi target serangan militer.

Hal ini memunculkan pertanyaan apakah pendekatan militer tersebut benar-benar mampu menekan peredaran narkoba secara signifikan, atau justru menjadi bentuk eskalasi baru dalam perang melawan kartel. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Militer AS Serang Kapal Terduga Pengedar Narkoba di Pasifik, 5 Orang Tewas

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)