Ratusan orang tua santriwati datangi Ponpes Pedang Ati di Pekalongan untuk menjemput putri mereka. (MI/AS)
Orang Tua Ramai Jemput Santriwati usai Kasus Pencabulan Ponpes Pekalongan
Media Indonesia • 27 May 2026 22:38
Pekalolngan: Ratusan orang tua santriwati beramai-ramai mendatangi Pondok Pesantren (Padepokan) Pedang Ati di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan, Jawa Tengah, untuk menjemput anak-anaknya, setelah kasus pencabulan dengan pelaku pimpinan dan pengasuh ponpes merebak. Para wali santi mengaku khawatir.
"Saya khawatir dengan kejadian ini," ujar Khasanah, seorang wali santri dari Pemalang, Kamis, 27 Mei 2026.

Ilustrasi dugaan pencabulan santriwati. (Metrotvnews.com)
Hal serupa juga diungkapkan Riyadi, wali santriwati dari Batang, Jawa Tengah. Riyadi pun mengaku khawatir akibat kasus asusila dengan pelaku pimpinan dan pengasuh pondok pesantren tersebut mengakibatkan situasi tidak kondusif.
"Terutama (khawatir) untuk psikologis para santriwati yang masih bertahan di ponpes," ujar dia.
Perkembangan Kasus
Kepala Polres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi mengaku sempat terkendala dalam penangana kasus dugaan pencabulan tersebut. Lantara, kata dia, para korban yang merupakan santriwati ponpes merasa takut dan diduga mengalami intimidasi serta trauma.Terbongkarnya kasus berawal dari penggerudukan puluhan anggota Ormas Yakuza Mangenes ke Ponpes Pedang Ati di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan. Mereka meminta pertanggungjawaban pimpinan ponpes atas banyaknya laporan asusila. Selain menggeruduk ponpes itu, puluhan anggota Ormas Yakuza Mangenes juga mendampingi sejumlah korban melapor ke kepolisian. Selanjutnya, polisi bergerak menangkap pimpinan dan pengasuh Ponpes Pedang Ati Abdul Khalim Fadlun (AKF).
"Sampai saat ini ada 6 korban yang melapor, dimungkinkan akan bertambah setelah terbongkarnya kasus ini," ujar kata Perwakilan Ormas Yakuza Mangenes Eko Ebes. (MI/AS)