DLH Palangka Raya perkuat peran tokoh adat cegah karhutla. ANTARA/HO-DLH Palangka Raya
Peran Tokoh Adat Diperkuat Demi Cegah Karhutla di Palangkaraya
Silvana Febiari • 13 May 2026 13:44
Palangkaraya: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), memperkuat peran tokoh adat dalam mencegah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi pencegahan.
"Upaya itu kami lakukan melalui sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan sasaran para tokoh adat, tokoh masyarakat, kelompok tani, pengurus RT dan RW serta pihak terkait lainnya," kata Plt Kepala DLH Kota Palangkaraya, Untung Sutrisno, dilansir dari Antara, Rabu, 13 Mei 2026.
Dia mengatakan, penguatan peran tokoh adat menjadi kunci dalam pencegahan karhutla karena mereka memiliki pengaruh sosial yang kuat di tengah masyarakat. Tokoh adat tidak hanya berfungsi sebagai penjaga nilai budaya, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran kolektif untuk menjaga hutan dan lahan.
"Pendekatan berbasis adat ini juga lebih efektif karena pesan yang disampaikan lahir dari nilai dan norma yang telah lama dipercaya masyarakat," ungkapnya.
Untung mengatakan, kearifan lokal juga perlu dioptimalkan sebagai instrumen pengendalian karhutla, terutama melalui aturan adat terkait pengelolaan lahan dan perlindungan kawasan hutan. Penerapan sanksi adat bagi pelanggar juga dinilai dapat menjadi kontrol sosial yang efektif.
"Revitalisasi nilai-nilai lokal tersebut penting agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada pendekatan hukum formal," tuturnya.
Kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat perlu diperkuat melalui pelibatan aktif dalam patroli, sosialisasi, hingga penyusunan kebijakan mitigasi karhutla di tingkat desa. Tokoh adat juga dapat menjadi jembatan edukasi kepada generasi muda mengenai dampak ekologis dan ekonomi akibat kebakaran hutan.
Di sisi lain, dukungan terhadap praktik pengelolaan lahan ramah lingkungan berbasis kearifan lokal harus terus diperluas. Pelatihan membuka lahan tanpa bakar, penguatan ekonomi masyarakat, serta perlindungan wilayah adat menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko karhutla.
"Sinergi antara pengetahuan tradisional dan kebijakan pemerintah diyakini mampu menciptakan pencegahan karhutla yang lebih berkelanjutan dan efektif," ucapnya.

Proses pemadaman karhutla melalui jalur udara. Foto: Istimewa
Berdasarkan data dan prediksi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, musim kemarau 2026 di Kota Palangka Raya diperkirakan terjadi lebih awal dan berlangsung cukup panjang mulai Mei hingga Agustus 2026. Kondisi cuaca yang kering tersebut dinilai meningkatkan risiko terjadinya karhutla serta berpotensi menurunkan kualitas udara.
Dia mengatakan, luas karhutla di Kota Palangkaraya terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023 tercatat seluas 3.892,15 hektare, tahun 2024 turun menjadi 26,08 hektare dan tahun 2025 sebesar 7,98 hektare. Sementara di wilayah Kecamatan Pahandut pada tahun 2025 tercatat hanya seluas 0,123 hektare.
“Capaian ini perlu dipertahankan dan terus ditingkatkan melalui partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan serta mencegah kebakaran lahan,” ungkapnya.