Penguatan Rupiah Dinilai Semakin Terbuka Lewat Sinergi Fiskal dan Moneter

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Penguatan Rupiah Dinilai Semakin Terbuka Lewat Sinergi Fiskal dan Moneter

Deny Irwanto • 10 June 2026 08:03

Jakarta: Upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional terus mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Ekonom Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara, yang menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah dalam meningkatkan daya tarik imbal hasil (yield) instrumen keuangan domestik serta menjaga likuiditas pasar keuangan dan perbankan merupakan langkah yang tepat untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

Menurut Surya, kebijakan peningkatan yield instrumen keuangan domestik berpotensi menarik lebih banyak aliran modal asing ke Indonesia, khususnya melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Arus investasi tersebut dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional sekaligus memperkuat permintaan terhadap mata uang rupiah.

"Jika portofolio inflow semakin deras masuk ke Indonesia melalui Surat Berharga Negara (SBN), maka akan semakin besar peluang bagi negara untuk mengelola modal asing tersebut menjadi program yang dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan produktivitas nasional. Ini akan memicu peningkatan permintaan atas rupiah, sehingga nilai tukar rupiah akan semakin kuat menghadapi tekanan mata uang asing seperti dollar Amerika Serikat," kata Surya dalam keterangan pers, dikutip Selasa, 9 Juni 2026.

Selain mendorong masuknya investasi, kebijakan pengelolaan kas negara di Bank Indonesia juga dinilai memberikan manfaat tambahan bagi negara. Menurut Surya, langkah tersebut dapat menjadi sumber pendapatan melalui remunerasi yang diterima pemerintah.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya memastikan manfaat kebijakan tersebut dapat dirasakan hingga sektor riil melalui peningkatan likuiditas di sistem perbankan.

"Pemerintah perlu berhati-hati dalam mengelola kebijakan ini. Pengelolaan kas negara di bank sentral harus mampu disalurkan dalam bentuk likuiditas tambahan kepada sistem perbankan. Kebijakan ini perlu pula diikuti dengan penurunan suku bunga acuan, agar para pelaku usaha dapat menyerap modal lebih maksimal untuk mengembangkan bisnis," jelasnya.

Ilustrasi. Foto: Magnific.


Surya juga menekankan bahwa koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah menjadi faktor penting dalam menciptakan sentimen positif di pasar keuangan. Menurutnya, keberhasilan berbagai kebijakan ekonomi sangat bergantung pada sinkronisasi langkah fiskal dan moneter.

"Tanpa koordinasi yang erat, opsi kebijakan meningkatkan yield instrumen keuangan domestik dan menjaga likuiditas pasar keuangan-perbankan tidak akan pernah tercapai," ungkapnya.

Ke depan, Surya menilai tantangan terbesar terletak pada konsistensi pelaksanaan kebijakan. Ia optimistis, apabila dijalankan secara disiplin dan berorientasi pada penguatan fundamental ekonomi, kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif bagi stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Tantangan selanjutnya bagi pemerintah adalah implementasi kedua kebijakan tersebut. Diperlukan disiplin, serta persepektif pembangunan ekonomi secara fundamental, agar kedua kebijakan tersebut dapat terlaksana secara maksimal, dalam rangka menguatkan nilai tukar rupiah serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

Menurut Surya, penguatan rupiah bukan hanya menjadi indikator stabilitas ekonomi, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap prospek perekonomian Indonesia. Karena itu, sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

 

(Deny Irwanto)