Ilustrasi. Foto: Magnific.
BPOM: Masyarakat Harus Waspada Obat Pelangsing Ilegal untuk Atasi Obesitas
Ade Hapsari Lestarini • 21 August 2026 08:56
Jakarta: Keinginan menurunkan berat badan dengan cepat kerap membuat produk pelangsing yang menawarkan hasil instan terlihat menggiurkan. Produk semacam ini juga semakin mudah ditemukan, termasuk melalui penjualan online dan promosi di media sosial.
Padahal, obesitas merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara bertahap. Dokter mengingatkan agar upaya menurunkan berat badan tidak dilakukan dengan diet ekstrem atau mengonsumsi obat yang belum jelas keamanannya. Hal tersebut dibahas dalam Health Corner bertema "Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal" pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya Prinindita Artiara Dewi mengatakan salah satu kesalahan yang masih dilakukan dalam upaya menurunkan berat badan adalah memangkas asupan makanan secara ekstrem. Pola tersebut antara lain makan hanya satu kali sehari atau menghilangkan kelompok makanan tertentu, seperti karbohidrat.
"Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu," ujar Prinindita dikutip Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut dia, tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi dengan baik. Karbohidrat dibutuhkan sebagai salah satu sumber energi, sementara protein berperan sebagai zat pembangun. Lemak, serat, vitamin, dan mineral juga tetap diperlukan.
Pola makan dalam program penurunan berat badan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan energi dan protein dapat berbeda berdasarkan kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.
"Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalize diet untuk setiap masing-masing individu," jelas dia.
Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia Riyanny Meisha Tarliman mengatakan anggapan obesitas hanya terjadi karena kurang disiplin juga perlu diluruskan. Obesitas dapat dipengaruhi faktor genetik, ketidakseimbangan hormonal, dan berbagai faktor lainnya. Karena itu, penyebab obesitas perlu diketahui agar penanganannya dapat disesuaikan.
"Sains menunjukkan obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dan lain-lain, dan seringkali membutuhkan konsultasi dengan dokter. Kami menghadirkan www.NovoCare.id agar masyarakat memiliki akses ke informasi berbasis sains untuk memahami obesitas dengan lebih baik, sekaligus akses untuk terhubung dengan dokter yang dapat membantu penanganan obesitas secara tepat," kata Riyanny.
Novo Nordisk menyatakan telah berkomitmen selama lebih dari 20 tahun di Indonesia melalui edukasi, kolaborasi, dan inovasi bersama pemerintah, regulator, tenaga kesehatan, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya. Prinindita menjelaskan obesitas perlu dipahami sebagai penyakit kronis yang berkembang secara perlahan dan berkaitan dengan kelebihan lemak dalam tubuh.
Penyebabnya beragam, mulai dari gaya hidup, penggunaan obat tertentu, hingga gangguan hormonal seperti hipotiroid dan sindrom Cushing. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat angka pada timbangan, tetapi juga perlu menilai komposisi tubuh dan kemungkinan penyakit penyerta.

Ilustrasi. Foto: Magnific.
Penanganan obesitas tidak hanya dengan obat
Penanganan obesitas memiliki beberapa pilar. Riyanny menjelaskan modifikasi gaya hidup menjadi bagian penting. Terapi farmakologi dapat diberikan jika diperlukan, sedangkan pada kondisi tertentu tindakan operasi bariatrik juga dapat menjadi pilihan.
Penentuan terapi dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing. Dokter perlu melihat komposisi tubuh serta penyakit penyerta, seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular, sebelum menentukan penanganan.
"Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai," jelas Riyanny.
Jika upaya menurunkan berat badan secara mandiri telah dilakukan tetapi tidak berhasil, konsultasi dengan dokter dapat dilakukan. Evaluasi diperlukan untuk melihat faktor yang masih terlewat dan menentukan penanganan yang sesuai.
Keinginan mendapatkan hasil cepat juga dapat membuat produk penurun berat badan yang beredar secara online menjadi pilihan. Padahal, tidak semua produk yang dipasarkan telah memenuhi ketentuan keamanan dan memiliki izin edar.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap promosi produk kesehatan, termasuk yang dilakukan influencer.
Menurut dia, promosi di media sosial terkadang disertai klaim berlebihan atau overclaim. Karena itu, informasi dari ulasan tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menggunakan obat penurun berat badan.
Taruna juga mengingatkan agar penggunaan obat penurun berat badan disesuaikan dengan ketentuan. Jika obat membutuhkan resep, penggunaannya perlu melalui konsultasi dengan dokter.
Hal serupa disampaikan Prinindita. Ia mengingatkan masih ada obat yang telah ditarik dari peredaran sejak 2010 tetapi menurutnya masih ditemukan beredar. Penggunaan obat yang sudah ditarik berisiko karena produk tersebut tidak lagi diperbolehkan beredar.
Pastikan dengan Cek KLIK
Untuk menghindari produk ilegal atau bermasalah, Taruna mengingatkan masyarakat menerapkan Cek KLIK sebelum membeli obat maupun produk kesehatan. Cek KLIK mencakup Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.
Kemasan perlu diperiksa untuk memastikan kondisinya sesuai. Label juga perlu dibaca, termasuk informasi mengenai indikasi atau peruntukan produk. Selanjutnya, pastikan produk memiliki izin edar dan masih dalam masa berlaku. Produk yang telah melewati tanggal kedaluwarsa juga tidak boleh digunakan.
"Pastikan kata BPOM yang kedua tentu. Apa kata BPOM? Pastikan cek klik, kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa," ujar Taruna.
Taruna juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dengan barcode pada kemasan. Jika setelah dipindai justru mengarah ke laman yang tidak berkaitan dengan BPOM, produk tersebut patut dicurigai dan dapat dilaporkan.
Penurunan berat badan pada obesitas membutuhkan proses. Riyanny mengatakan obesitas berkembang dalam waktu panjang sehingga penanganannya juga tidak dapat diharapkan selesai dalam waktu singkat.
"Namanya kronis tidak dari kemarin tiba-tiba hari ini saya obes, maka penyelesaiannya juga tidak kemudian hari ini besok saya selesai. Pengelolaan obesitas harus berbasis sains, melibatkan tenaga kesehatan, dan mempertimbangkan dampak dan manfaat jangka panjang (long-term health)," tutur dia.
Perubahan gaya hidup perlu dilakukan secara bertahap agar dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Aktivitas fisik juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Pada kondisi tertentu, misalnya ketika mengalami gangguan lutut, jenis olahraga perlu disesuaikan agar perubahan gaya hidup tetap dapat dilakukan tanpa memperburuk kondisi.
Prinindita menekankan konsistensi diperlukan dalam menjalani terapi obesitas. Tujuannya tidak berhenti pada penurunan berat badan, tetapi juga mempertahankan hasil dan mencegah berat badan kembali meningkat.
"Memang diperlukan konsisten yang pertama itu sangat penting sekali, istikomah, dan juga komitmen," jelas Prinindita.