Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo. (Anadolu Agency)
Willy Haryono • 25 November 2025 12:21
Khartoum: Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di Sudan mengumumkan gencatan senjata sepihak selama tiga bulan dengan militer Sudan, menyatakan bahwa langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap seruan internasional untuk menghentikan kekerasan dan memperluas akses bagi lembaga kemanusiaan.
Dalam pernyataan video, pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo mengatakan bahwa pasukannya dan kelompok-kelompok sekutu telah sepakat untuk “gencatan senjata kemanusiaan segera yang mencakup penghentian semua aksi permusuhan selama tiga bulan”.
Dikutip dari TRT World, Selasa, 25 November 2025, Dagalo menyatakan RSF berkomitmen memfasilitasi operasi kemanusiaan dengan menjamin pergerakan pekerja bantuan, memastikan akses tanpa hambatan ke wilayah terdampak, melindungi fasilitas dan gudang milik organisasi lokal maupun internasional, serta mengizinkan tim medis dan relawan untuk beroperasi secara bebas.
Ia juga mengumumkan persetujuan RSF atas pembentukan mekanisme pemantauan lapangan untuk mengawasi gencatan senjata di bawah pengawasan Quad dan Uni Afrika, serta komite tambahan untuk memastikan bantuan mencapai warga sipil dengan aman.
Dagalo menambahkan bahwa gencatan senjata ini harus menjadi “langkah pertama menuju penghentian permusuhan dan tercapainya solusi politik yang komprehensif” bagi konflik Sudan. Ia berharap dukungan internasional dan partisipasi luas dari rakyat Sudan dapat membuka jalan bagi proses politik yang mengakhiri perang dan membawa negara menuju transisi yang stabil.
Dagalo menegaskan bahwa proses politik mendatang harus mengecualikan “Gerakan eksremis Islam, Ikhwanul Muslimin, Partai Kongres Nasional, dan para afiliasinya (termasuk tentara dan kelompok sekutunya).”
Belum ada komentar langsung dari pihak militer Sudan terkait pengumuman RSF tersebut.
Pada Minggu, Ketua Dewan Kedaulatan Transisi Sudan Abdel Fattah al-Burhan mengkritik proposal dari Quad, yang terdiri atas Amerika Serikat, Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, meski ia tidak mengungkap detailnya. Pada 12 September, Quad menyerukan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan sebagai langkah awal untuk membuka akses bantuan mendesak dan menuju gencatan senjata permanen.
Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington akan bekerja untuk mengakhiri konflik di Sudan.
Sejak April 2023, militer Sudan dan RSF terlibat perang yang belum berhasil dihentikan oleh mediasi regional maupun internasional. Konflik ini telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.
Perhatian internasional meningkat sejak RSF merebut kota penting Al Fasher di Darfur bulan lalu setelah pengepungan dan serangan brutal yang memicu peringatan potensi kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan lebih dari 106.000 warga sipil telah melarikan diri dari El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, sejak RSF menguasai kota tersebut pada 26 Oktober.
Baca juga: Lebih dari 600 Warga Mengungsi akibat Eskalasi Kekerasan di Kordofan Sudan