Kegiatan Kirab Budaya Ruwahan bertajuk
Kirab Budaya Ruwahan Jadi Wujud Toleransi Warga Kampung Miliran Yogyakarta
Ahmad Mustaqim • 10 February 2026 21:36
Yogyakarta: Sejumlah gunungan dari hasil bumi dipanggul beberapa orang di Kampung Miliran, Kelurahan Muja Muju, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Kegiatan Kirab Budaya Ruwahan bertajuk "Ngampem Bareng" diikuti warga berlatar belakang lintas agama sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa sekaligus penguatan nilai toleransi antarumat beragama.
Ketua Pelaksana Kegiatan Herry Santoso Wibowo mengatakan, kirab budaya merupakan agenda tahunan yang telah diselenggarakan untuk ketiga kalinya. Kirab yang dibarengi tradisi ruwahan telah menjadi budaya masyarakat Jawa yang dilakukan menjelang bulan ramadan sebagai bentuk doa, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
"Kirab ini menjadi bentuk melestarikan budaya Jawa, sekaligus memperkuat persaudaraan antarumat beragama. Ini juga menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan," ujar Herry baru-baru ini.

Kegiatan Kirab Budaya Ruwahan bertajuk "Ngampem Bareng" di Kampung Miliran, Kelurahan Muja Muju, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Dokumentasi/Pemkot Yogyakarta
Hery mengatakan hal membedakan kegiatan ini dengan tradisi ruwahan pada umumnya adalah konsep pluralisme dalam toleransi. Kegiatannya tidak hanya diikuti oleh umat Islam yang akan memasuki bulan Ramadan, tetapi juga dimeriahkan oleh umat beragama lainnya.
"Kampung kami dikenal sebagai kampung dengan masyarakat yang sangat majemuk. Di wilayah ini hidup berdampingan pemeluk agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, hingga Konghucu. Keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan utama dalam membangun kehidupan sosial yang rukun dan harmonis," kata dia.
Dalam kirab tersebut, Gunungan Apem raksasa yang menjadi simbol utama tradisi ruwahan. Gunungan tersebut dikawal Bregada (pasukan) ‘Wira Praja Manggala’, serta diikuti oleh peserta karnaval dari warga Kampung Miliran yang mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebelum gunungan dibagikan kepada masyarakat, prosesi doa dilakukan secara lintas agama, melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai keyakinan. Doa bersama ini menjadi simbol kebersamaan dan harmoni, bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling mendoakan dan menjaga persatuan.
"Kegiatan ini merupakan sarana untuk menggali potensi budaya dan pariwisata, sekaligus melestarikan budaya Jawa dan menjadi sarana syiar agama. Yang terpenting, ini memperlihatkan wajah Yogyakarta sebagai kota yang toleran dan berbudaya," ucap Wawan.
Wawan menilai, Kirab Budaya Ruwahan "Ngampem Bareng" juga menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi antarwarga, merawat tradisi leluhur atau nguri-uri kabudayan, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal yang menjadi kekayaan Yogyakarta.
Ia menjelaskan masyarakat Kampung Miliran bahkan dikenal sebagai salah satu contoh Kampung Rukun Beragama di Kota Yogyakarta, karena warganya mampu menjaga toleransi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan sosial dan budaya. Menurut dia, Pemerintah Kota Yogyakarta memberi dukungan terhadap upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan tersebut.
"Ketika anak-anak muda mau belajar, ikut tampil, bahkan menjadi bagian dari tim kreatif penyelenggaraan budaya, maka warisan budaya akan tetap hidup dan berkembang secara dinamis," ujarnya.