APBN Agustus 2026 Defisit Rp240,1 Triliun, Menkeu Suahasil: Masih Terkendali

Menkeu Suahasil Nazara saat memimpin konferensi Pers APBN KiTa Edisi September 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari.

APBN Agustus 2026 Defisit Rp240,1 Triliun, Menkeu Suahasil: Masih Terkendali

Andika Fauzan Azhari • 18 September 2026 13:43

Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 masih terjaga dalam batas yang terkendali. Meskipun mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun, pergerakan fiskal nasional dinilai tetap berada di jalur yang tepat untuk mendukung stabilitas ekonomi.
 
Hingga periode tersebut, pendapatan negara berhasil dihimpun sebesar Rp2.055,6 triliun atau mencapai 65 persen dari target APBN. Sementara itu, realisasi belanja negara telah tersalurkan sebesar Rp2.295 triliun, yang memicu terjadinya defisit setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
 
"Di akhir Agustus 2026, kinerja APBN kita itu tetap kuat dengan keseimbangan primer yang positif, defisit tetap dalam batasan yang terkendali, dan ini artinya memang perjalanan APBN-nya relatively on track," ucap Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Jum'at, 18 September 2026.
 
Kementerian Keuangan tetap mencermati berbagai tantangan global yang berpotensi memengaruhi postur anggaran. Tantangan tersebut antara lain eskalasi geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi di tingkat internasional.
 
Di sisi domestik, sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan kondisi yang mendukung ketahanan ekonomi. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
 
Sementara itu, perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen. Kementerian Keuangan menilai capaian tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan ketahanan perekonomian nasional.
 
"Kalau kita sudah lihat Indonesia semester I 5,45 persen, lalu kemudian kita dapat angka kemarin inflasi 3,19 persen, itu adalah angka-angka yang cukup memberikan confidence kepada kita perekonomian Indonesia itu stay resilient," tambah Suahasil.
 



(Ilustrasi penghitungan APBN. Foto: dok MI)
 

Sektor riil dan arus modal jadi perhatian pemerintah

 
Di tengah ketidakpastian pasar global, aktivitas sektor riil domestik tetap menjadi perhatian pemerintah. Transaksi, penjualan eceran, serta konsumsi masyarakat menengah ke atas disebut masih menunjukkan kondisi yang mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.
 
Instrumen pasar keuangan domestik juga menunjukkan pergerakan arus modal masuk. Akumulasi modal asing yang masuk ke Indonesia tercatat mencapai Rp141,6 triliun hingga pertengahan September 2026.
 
Aliran modal tersebut didominasi penempatan pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pemerintah di tengah dinamika pasar keuangan global.
 
Dengan defisit yang masih berada dalam batas terkendali, pemerintah terus menjaga pelaksanaan APBN agar tetap mendukung aktivitas ekonomi nasional. Pengelolaan fiskal juga diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah berbagai tekanan eksternal.
 
Kementerian Keuangan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik sebagai bagian dari pengelolaan APBN hingga akhir tahun anggaran.

(Husen Miftahudin)