Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Foto: Kyodo
Jepang Lepas Cadangan Minyak Darurat Akibat Krisis Selat Hormuz
Muhammad Reyhansyah • 17 March 2026 19:05
Tokyo: Jepang mulai melepaskan cadangan minyak daruratnya di tengah krisis energi global yang dipicu oleh terganggunya Selat Hormuz akibat konflik antara Iran serta Amerika Serikat dan Israel.
Langkah tersebut diumumkan melalui pemberitahuan resmi pemerintah yang dipublikasikan pada Senin, 16 Maret 2026.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 17 Maret 2026, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya menyatakan rencana untuk secara sepihak melepaskan 80 juta barel minyak dari cadangan nasional guna mengatasi kekhawatiran pasokan.
Keputusan itu diumumkan tak lama sebelum Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan akan mengoordinasikan pelepasan hingga 400 juta barel minyak untuk menstabilkan pasar.
Para analis menilai harga berpotensi terus naik selama pengiriman melalui Selat Hormuz—yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global—masih terhenti.
Pemerintah Jepang juga menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengerahkan angkatan laut ke kawasan tersebut, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta negara lain membantu membuka jalur pelayaran.
Harga minyak Brent, yang menjadi acuan utama global, sempat naik hingga 3 persen pada Minggu sebelum sedikit melemah pada Senin.
Pada pukul 05.45 GMT, harga Brent tercatat sebesar USD104,85 per barel, meningkat lebih dari 40 persen sejak pecahnya konflik pada 28 Februari.
Sebagai salah satu importir minyak terbesar di dunia, Jepang sangat bergantung pada pasokan energi dari luar negeri yang mencakup sekitar 80 persen kebutuhan domestiknya.
Namun demikian, negara tersebut memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga 254 hari.