Rusia Tuduh Inggris dan Prancis Berencana Kirim Senjata Nuklir ke Ukraina

Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Anadolu Agency)

Rusia Tuduh Inggris dan Prancis Berencana Kirim Senjata Nuklir ke Ukraina

Willy Haryono • 25 February 2026 11:00

Moskow: Badan Intelijen Luar Negeri Rusia, SVR, menuduh Inggris dan Prancis tengah bersiap mempersenjatai Ukraina dengan senjata nuklir.

Tuduhan tanpa bukti pendukung ini memicu ancaman serangan nuklir balasan dari pejabat tinggi keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, terhadap Kyiv, Paris, dan London.

SVR menuduh London dan Paris berniat memberikan bom nuklir kepada Kyiv demi mencapai kemenangan militer atas Rusia. Klaim tersebut segera diamplifikasi oleh media pemerintah Rusia, TASS, serta berbagai akun pro-Kremlin di media sosial yang menyebut rencana itu sebagai pelanggaran berat hukum internasional.

Pihak Ukraina secara tegas menolak tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi, mengatakan bahwa pejabat Rusia kembali mencoba memfabrikasi narasi kebohongan lama mengenai bom kotor.

Prancis melalui akun resmi kementerian luar negerinya menyatakan bahwa narasi tersebut merupakan upaya pengalihan isu.

"Gertakan nuklir tidak akan bisa menyembunyikan besarnya dukungan internasional untuk Ukraina pada peringatan keempat invasi Anda yang gagal," tulis pihak Prancis di X, seperti dikutip Euronews, Rabu, 24 Februari 2026.

Sementara itu, Pemerintah Inggris melalui laporan Sky News menegaskan bahwa tuduhan tersebut sama sekali tidak benar.

Para pakar hukum internasional menekankan bahwa klaim Rusia tersebut bertentangan dengan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Berdasarkan pakta tersebut, Inggris dan Prancis dilarang mentransfer senjata nuklir kepada negara non-nuklir seperti Ukraina.   

Jerman juga ikut terseret dalam klaim SVR yang menyebut Berlin telah menolak tawaran untuk ikut serta dalam rencana tersebut. Namun, Kementerian Pertahanan Jerman mengatakan tidak akan menanggapi pernyataan yang berasal dari sumber semacam itu.

Analisis dari pakar keamanan menunjukkan bahwa penyebaran disinformasi ini bertepatan dengan peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia ke Ukraina. Penggunaan narasi nuklir dinilai bertujuan untuk mendistorsi realitas bagi audiens domestik dan internasional guna menutupi kegagalan militer Moskow.   

Sebagai catatan sejarah, Ukraina telah menyerahkan seluruh senjata nuklirnya pada tahun 1994 melalui Memorandum Budapest dengan imbalan jaminan keamanan dari Rusia, Inggris, dan AS.

Presiden Volodymyr Zelensky sendiri telah menyatakan bahwa fokus utama Ukraina saat ini adalah bergabung dengan NATO, bukan mengembangkan kembali persenjataan nuklir. (Kelvin Yurcel)

Baca juga: AS Desak Anggota PBB Hentikan Dukungan terhadap Perang Rusia di Ukraina

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)