Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Ditutup ke Rp17.804/USD
Eko Nordiansyah • 19 June 2026 16:36
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tertekan terhadap dolar AS sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 17 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.804 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 10 poin atau setara 0,06 persen dari posisi Rp17.794 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.780 per USD. Rupiah justru menguat sebanyak 41 poin atau setara 0,23 persen dari Rp17.841 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.826 per USD. Rupiah bergerak datar atau masih sama dari perdagangan sebelumnya.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Faktor eksternal menekan rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menganggap rupiah melemah pascameningkatnya prospek kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) pascapertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang masih kembali menguat oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pasca FOMC,” ujar dia dikutip dari Antara, Jumat, 19 Juni 2026.
Dia menerangkan bahwa prospek tersebut muncul karena inflasi AS saat ini berada di angka 4,2 persen, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.
Mengutip Anadolu, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan komitmen untuk mencapai target stabilitas harga 2 persen.
Ketika ditanya apakah The Fed dapat mempertimbangkan kembali target inflasi 2 persen, Warsh menyampaikan bahwa level tersebut tetapi menjadi tujuan jangka panjang bank sentral dan tak boleh ditinjau kembali sebelum The Fed kembali mampu mewujudkannya.
Selain itu, indeks dolar AS disebut mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir. Kekhawatiran apabila pasokan minyak mentah dunia masih belum akan pulih akibat perang turut mendukung dolar AS, kendati kesepakatan damai tahap pertama antara AS dengan Iran turut mendukung rupiah.
“Kesepakatan damai tahap pertama ini tentunya mendukung rupiah, namun untuk jangka pendek memang fluktuasi seperti ini terjadi, investor masih memberikan perhatian pada prospek suku bunga The Fed,” kata Lukman.
Adapun sentimen domestik, keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk tetap mempertahankan status pasar Indonesia sebagai EM (emerging market) cukup melegakan dan bisa mendukung rupiah.
Begitu pula dengan keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate yang dinilai sangat penting untuk mendukung rupiah dan diperkirakan akan dinaikkan ke depannya sekitar 50 basis points (bps).