Dinkes DKI Pastikan Belum Ada Kasus Kematian akibat DBD

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, di Balai Kota Jakarta. Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa.

Dinkes DKI Pastikan Belum Ada Kasus Kematian akibat DBD

Fachri Audhia Hafiez • 14 October 2026 18:07

Jakarta: Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta memastikan belum ada laporan mengenai pasien demam berdarah dengue (DBD) yang meninggal dunia. Pemantauan penyakit ini telah dilakukan maksimal.

“Sampai dengan hari ini di data kami belum ada laporan tentang kasus DBD yang meninggal,” kata Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.
 


Ani menjelaskan, DBD merupakan salah satu dari sejumlah penyakit yang selalu dipantau secara ketat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Sistem surveilans kesehatan ini dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan bersama World Health Organization (WHO) serta Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk memantau 24 penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah secara mingguan.

Dia menyebut angka kasus DBD sejauh ini masih bergerak dinamis sesuai pola musiman yang dapat naik dan turun mengikuti kondisi cuaca. Jajaran Dinkes DKI, sambung Ani, terus memantau perkembangan kasus secara intensif.

“Apabila semuanya masih dalam status terkendali maka kami akan melakukan pencegahan seperti yang sudah dilakukan antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk dan edukasi yang lebih masif kepada masyarakat,” kata Ani.


Ilustrasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Foto: Dok. Medcom.id.

Sebelumnya, tren kasus DBD di Jakarta sempat menunjukkan peningkatan pada awal tahun 2026. Tercatat sebanyak 83 kasus pada minggu pertama, dari semula 69 kasus pada minggu ke-53 tahun 2025.

Kenaikan tersebut dinilai belum setinggi periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tercatat, jumlah kasus DBD di wilayah DKI pada 2026 hingga 19 Januari mencapai 143 kasus. 

Khusus di wilayah Jakarta Selatan, tercatat sebanyak 1.314 kasus DBD hingga September 2026. Temuan ini terus ditangani secara optimal.

(Fachri Audhia Hafiez)