Puan Maharani: Pemuda Harus Berani Perjuangkan Keadilan dan Lawan Hoaks

Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri pembukaan Konsultasi Nasional Pemuda Gereja di Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat, 6 November 2026 (Foto:Dok.Ist)

Puan Maharani: Pemuda Harus Berani Perjuangkan Keadilan dan Lawan Hoaks

Rosa Anggreati • 6 November 2026 13:30

Jakarta: Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri pembukaan Konsultasi Nasional Pemuda Gereja di Manado, Sulawesi Utara. Dalam kesempatan itu, Puan menyampaikan sejumlah pesan kepada anak muda Indonesia, termasuk untuk berani memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Konsultasi Nasional Pemuda Gereja digelar di aula Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, pada Jumat, 6 November 2026 pagi. Puan datang didampingi oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman, Wakil Ketua Komisi VI DPR Adisatrya Suryo Sulisto, Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abidin Fikri, Wakil Ketua Komisi VIII MY Esti Wijayati, dan Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam.

Kehadiran Puan disambut oleh Ketua Panitia Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, Rio Dondokambey. Acara ini dihadiri pemuda dan remaja gereja dari seluruh penjuru Tanah Air, para pimpinan Sinode Gereja-gereja Anggota PGI, Pimpinan PGI Wilayah, dan Sinode Am Gereja-gereja (SAG), hingga Forkopimda Provinsi Sulawesi Utara.

Turut hadir pula Ketua Forum Pria Kaum Bapak (PKB) PGl, Olly Dondokambey beserta Ibu Rita Tamuntuan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Darwin Darmawan, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Dr. Jeane Marie Tulung, Ketua MPH Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara dan Tengah, Pdt Jacklin Soan Sumilat, serta Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung beserta segenap civitas akademika IAKN Manado.

Di awal sambutannya, Puan menyinggung tentang harmoni dalam perbedaan.

“Meski kita berbeda agama tetapi ketika saya datang ke sini, sambutannya begitu hangat. Membuat saya merasa datang ke keluarga sendiri,” kata Puan diikuti tepuk tangan meriah dari para peserta yang hadir.

“Memang itulah Indonesia. Kita bhineka tunggal ika. Ini yang harus selalu kita jaga termasuk oleh anak-anak muda,” lanjut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Dalam kesempatan tersebut, Puan menyinggung soal Hari Sumpah Pemuda yang baru saja diperingati bangsa Indonesia pada 28 Oktober lalu.

“Belum lama ini, bangsa Indonesia memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Sebuah tonggak sejarah yang mengingatkan kita bahwa perubahan besar dalam perjalanan suatu bangsa sering kali lahir dari keberanian generasi muda untuk memikirkan sesuatu yang belum terpikirkan oleh zamannya. Juga memperjuangkan sesuatu yang belum menjadi kenyataan, dan mempersatukan sesuatu yang sebelumnya terpecah-pecah,” kata Puan.
 


Menurut Puan, sejarah dunia mencatat pola yang serupa. Mulai dari gerakan mahasiswa dan pemuda dalam perjuangan di berbagai negara, gerakan hak asasi manusia, gerakan demokrasi, peduli lingkungan, sampai perjuangan generasi muda menentang rasisme.

“Ini menunjukkan bahwa anak muda kerap menjadi kekuatan yang menggugat ketidakadilan, menantang kemapanan, dan membuka jalan bagi perubahan sosial,” ujar Puan.

Puan menegaskan, generasi muda atau Pemuda merupakan kekuatan penting dalam pembaruan sosial karena memiliki pengalaman sejarah yang berbeda sehingga memungkinkan menghadirkan cara pandang baru. 
 
“Hari ini, Pemuda hidup di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang berkembang dengan kecepatan luar biasa. Pengetahuan semakin mudah diakses, batas-batas geografis semakin terbuka, dan kesempatan untuk belajar, berinovasi, serta membangun gerakan bersama semakin luas,” katanya.
 
Akan tetapi, kata Puan, kemajuan teknologi tidak dengan sendirinya melahirkan kemajuan cara berpikir, sebagaimana kelimpahan informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan.
 
“Pemuda tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, pengguna teknologi, atau pengikut perubahan. Pemuda perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, menguji kebenaran, memahami persoalan secara mendalam, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” sebut Puan.



Puan memandang, tantangan terbesar pemuda hari ini bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana membedakan fakta dari manipulasi, pengetahuan dari sekedar opini, serta dapat mengambil sikap atas keterasingan manusia dari kemajuan itu sendiri yang dapat memperbesar ketimpangan dan ketidakadilan.

Apalagi, kemajuan teknologi juga memiliki konsekuensi atau dampak buruk seperti bahaya hoax akibat penggunaan kecerdasaan buatan yang kurang tepat.

“AI ini luar biasa canggihnya tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dengan hanya mengetik atau prompting di gadget lalu bisa sekejap menghasilkan konten-konten hoax, disinformasi. Di sini generasi muda harus berpikir kritis agar tidak termakan hoax,” ungkapnya.

Dalam konteks inilah, Puan menilai tema Konsultasi Nasional Pemuda Gereja yaitu ‘Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran’, menemukan relevansinya yang sangat kuat dengan tantangan zaman.
 
“Terang harus memiliki daya untuk menerangi persoalan, membangkitkan kesadaran, menumbuhkan harapan, dan menggerakkan tindakan bersama,” ungkap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu.

Lebih lanjut, Puan menyebut tekad Konsultasi Nasional Pemuda Gereja juga sejalan dengan falsafah yang diwariskan oleh Sam Ratulangi, pahlawan nasional dari Sulawesi Utara.

“Yaitu Si Tou Timou Tumou Tou, bahwa manusia hidup untuk memanusiakan sesama manusia. Falsafah ini mengajarkan bahwa nilai kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diraih untuk dirinya sendiri, tetapi juga oleh apa yang dapat diberikan bagi kehidupan sesamanya,” ucap Puan.
 
Dalam sejarah perjuangan bangsa, Puan pun menyinggung soal dedikasi Proklamator dan Presiden pertama Indonesia, Sukarno atau Bung Karno yan menempatkan rakyat sebagai pusat dari cita-cita kemerdekaan. 
 
“Bung Karno menegaskan bahwa kebangsaan dan demokrasi tidak boleh berhenti pada kemerdekaan politik, tetapi harus membawa kemerdekaan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga rakyat dapat hidup lebih sejahtera dan bermartabat,” jelas cucu Bung Karno tersebut.

Puan menegaskan, pengabdian kepada sesama bukanlah sesuatu yang terpisah dari perjuangan membangun bangsa. Justru melalui kepedulian terhadap kehidupan rakyat, nilai-nilai kemanusiaan, dan kebangsaan, menurut Puan, maka keimanan menemukan wujudnya yang nyata.
 
“Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pada saat ini, tentu tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar pikiran, memperkuat persaudaraan, dan menyusun program-program organisasi,” tutur Puan.

Puan pun berharap agar forum ini menjadi momentum untuk mempertegas arah pengabdian Pemuda Gereja di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
“Jika Pemuda Gereja ingin menjadi terang, maka terang itu harus hadir di tengah kehidupan rakyat. Terang tidak hanya bersinar di dalam ruang-ruang pertemuan dan kegiatan organisasi, tetapi harus menjangkau tempat-tempat di mana masyarakat menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan ketidakadilan,” urainya.

Dari semangat inilah, Puan menilai program-program kerja Pemuda Gereja perlu dirumuskan, khususnya program yang dilandasi oleh persoalan nyata yang harus dijawab dan dapat memberikan perubahan serta dirasakan manfaatnya oleh pemuda dan masyarakat.
 
“Perjalanan Pemuda Gereja untuk menjadi terang di tengah kehidupan rakyat tentu tidak selalu mudah. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap generasi menghadapi ujian sejarah yang berbeda,” kata Puan. 
 
Jika generasi muda pada masa perjuangan kemerdekaan menghadapi penjajahan dan keterbatasan kebebasan, menurut Puan, maka generasi muda hari ini menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks yaitu kemajuan teknologi yang sangat cepat, persaingan ekonomi, ketimpangan kesempatan, krisis lingkungan, disinformasi, serta kecenderungan melemahnya solidaritas sosial.

“Di sinilah panggilan Pemuda Gereja untuk menjadi terang menemukan ujian yang sesungguhnya karena, terang tidak kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan kegelapan. Justru di tengah kesulitan dan ketidakpastian, kehadiran terang menjadi semakin diperlukan,” tutur Puan.

Puan juga mengingatkan, pemuda gereja tidak cukup hanya memahami tantangan zaman, tetapi harus memperkuat diri untuk mampu menjawabnya melalui karya, pelayanan, dan gerakan bersama yang membawa perubahan nyata. 

“Pemuda harus terus mempertajam cara pikir, memperkuat kemajuan cara kerja, dan meningkatkan cara hidup yang baik,” kata mantan Menko PMK itu.

Puan pun menyinggung Indonesia saat ini memiliki angkatan generasi muda yang sangat besar, yaitu lebih dari 50 persen. Meski begitu, ia menilai masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah generasi muda yang kita miliki, tetapi terutama oleh kualitas dan kekuatan karakternya.
 
“Oleh karena itu, menjadi harapan kita semua bahwa Konsultasi Nasional ini dapat menghadirkan gerakan Pemuda Gereja yang berkarakter, sebagai kekuatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan ikut membentuk masa depan bangsa dan negara,” ucap Puan.
Puan juga berharap agar pemuda gereja menjadi generasi yang kuat dalam iman, terbuka terhadap kemajuan, dan memiliki keberanian untuk menghadirkan kebaikan.
 
 “Bung Karno pernah mengungkapkan keyakinannya yang sangat besar terhadap kekuatan generasi muda melalui ungkapan yang terkenal: Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” ujar Puan mengutip pernyataan Bung Karno.
 
“Pesan yang dapat kita petik dari ungkapan tersebut bukanlah tentang jumlah pemuda, melainkan tentang kekuatan tekad, keberanian, persatuan, dan cita-cita besar yang mampu menggerakkan perubahan sejarah,” kata Puan.

Dalam acara tersebut Puan menyematkan tanda peserta acara tanda Konsultasi Nasional Pemuda Gereja resmi dibuka. Puan meminta pemuda gereja untuk berani dengan tetap berlandaskan pada iman, memperoleh kekuatannya dari pengetahuan, serta mewujudkannya melalui kepedulian dan kebaikan kepada sesama.
 
“Inilah panggilan Pemuda Gereja: menjadi terang yang tidak bersinar untuk dirinya sendiri, tetapi bersinar menerangi kehidupan sesama,” ucapnya.

Puan pun kembali memberikan pesan kepada generasi muda. “Hiduplah sebagai terang. Hadirkan kebaikan. Perjuangkan keadilan! Tegakkan kebenaran!” tegas Puan.

Sementara itu, Ketua Panitia Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, Rio Dondokambey mengucapkan terima kasih atas kedatangan Puan.

“Selamat datang Ibu Ketua DPR-RI. Kami sangat merasa terhormat Ibu hadir. Ini adalah Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pertama yang kami laksanakan setelah beberapa tahun sempat vakum. Kami sangat ingin mendengar masukan dari Ibu Ketua untuk penyusunan program-program kerja kami,” ucap Rio Dondokambey.

(Rosa Anggreati)