Pencegahan stunting/MI
Angka Prevalensi Stunting di Jaksel Ditargetkan Turun jadi 11,2%
Siti Yona Hukmana • 26 October 2026 12:22
Jakarta: Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan prevalensi stunting di wilayahnya turun dari sekitar 14 persen menjadi 11,2 persen hingga akhir 2030. Berdasarkan data tahun 2023 dan 2024, stunting di Jakarta Selatan menunjukkan tren penurunan.
"Namun, kita tetap harus bekerja keras untuk mencapai target jangka panjang," kata Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Jakarta Selatan Rizky Hamid di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 26 Oktober 2026.
Selain memperkuat koordinasi antar instansi, Pemkot Jaksel berupaya meningkatkan efektivitas program penanganan stunting di seluruh wilayah Jakarta Selatan. Upaya ini dilakukan melalui penguatan intervensi, evaluasi program, serta peningkatan edukasi gizi dan pola asuh keluarga.
"Semoga upaya kita bersama ini dapat mengentaskan stunting nantinya, sesuai dengan target yang telah ditetapkan bersama," kata Rizky.

Ilustrasi. Media Indonesia.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanudin Ibrahim mengatakan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi terpadu. Sebab, permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja.
Firmanudin menjelaskan faktor penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi pola asuh dan praktik pengasuhan anak di masyarakat. Berdasarkan hasil pemetaan, kasus di Jakarta Selatan sering kali dipicu oleh tingginya tingkat kepercayaan keluarga kepada pihak pengasuh dalam merawat anak.
Firmanuddin menambahkan edukasi mengenai gizi dan pola asuh perlu diperkuat dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat. Untuk itu, Pemkot Jaksel akan mendorong keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menyampaikan pesan edukasi.
Firmanudin menambahkan Kecamatan Jagakarsa saat ini tercatat sebagai wilayah dengan kasus stunting paling luas dan terpadat di Jakarta Selatan. Sehingga, memerlukan perhatian serta intervensi yang lebih optimal.
"Penanganan stunting memerlukan keterlibatan aktif secara berjenjang, hingga pengurus lingkungan," ungkap Firmanuddin.