Hoaks Listrik Padam, Publik Diminta Utamakan Nalar dan Klarifikasi

Hoaks listrik dan ATM bakal mati selama 7 hari. Foto: turnbackhoax.id.

Hoaks Listrik Padam, Publik Diminta Utamakan Nalar dan Klarifikasi

Fachri Audhia Hafiez • 1 February 2026 15:45

Jakarta: Kabar palsu atau hoaks mengenai pemadaman listrik dan matinya jaringan ATM selama tujuh hari menuai sorotan. Situasi itu dinilai membuktikan ketakutan publik sering kali bergerak lebih cepat daripada nalar dan klarifikasi resmi.

"Kabar tentang ‘listrik dan ATM akan mati selama tujuh hari’ beredar luas tanpa sumber, tanpa otoritas, tanpa pijakan teknis yang masuk akal. Yang bekerja bukan kebenaran, melainkan ketakutan,” ujar praktisi analis big data Azis Subekti dalam keterangan tertulis, Minggu, 1 Februari 2026.
 


Anggota Komisi II DPR itu mengatakan bahwa algoritma media sosial saat ini cenderung memberikan panggung utama pada emosi. Rasa takut, marah, maupun tawa, semuanya diperlakukan setara selama mampu membuat pengguna terus menggulir layar gawai.

Hal ini, kata dia, menciptakan pola berbahaya terkait informasi tidak lagi dinilai berdasarkan akurasinya. Tetapi dari seberapa ramai atau viralnya konten tersebut.

Dampak jangka panjang dari fenomena ini adalah pengikisan kepercayaan publik terhadap institusi resmi. Azis mengkhawatirkan terbentuknya kebiasaan kolektif untuk bereaksi terlebih dahulu sebelum berpikir. 

"Emosi menjadi pintu masuk utama, sementara literasi tertinggal di belakang. Ketika rasa takut dipantik, nalar menyusut. Ketika empati disentuh, kehati-hatian sering ditinggalkan," ujar Azis.

Dia menambahkan jika masyarakat terus diguncang oleh rekayasa informasi, ada risiko besar. Khususnya terkait peringatan bahaya yang nyata, justru diabaikan karena dianggap sebagai sekadar isu viral lainnya.

"Negara memang memikul tanggung jawab besar untuk hadir dengan komunikasi publik yang cepat dan kredibel. Tetapi warga juga memiliki tanggung jawab etis yang tak kalah penting," kata Azis.

Azis menekankan bahwa Indonesia saat ini tidak sedang kekurangan informasi, melainkan kekurangan ketenangan. Ia mendorong literasi digital untuk dijadikan kebiasaan hidup sehari-hari, bukan sekadar jargon.


Praktisi analis big data sekaligus anggota Komisi II DPR Azis Subekti. Foto: Dok. Istimewa.

"Dari situlah pekerjaan besar kita dimulai, mengembalikan nalar ke tengah keramaian, serta menjadikan literasi sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar jargon," ujar Azis.

Sebelumnya, sebuah video yang menampilkan Dharma Pongrekun beredar di media sosial. Dalam postingan video disebut listrik dan layanan ATM di Indonesia akan mati selama tujuh hari.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)