Kontrak Berjangka Saham AS Turun, Dipicu 2 Hal Ini

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Kontrak Berjangka Saham AS Turun, Dipicu 2 Hal Ini

Eko Nordiansyah • 14 September 2026 08:15

New York: Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) turun tajam pada Minggu malam, 13 September 2026. Sektor teknologi tertekan di tengah meningkatnya seruan untuk memperlambat laju pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Selain itu, pasar juga diliputi kekhawatiran akibat lonjakan harga minyak di tengah memburuknya ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah serangan oleh kelompok Houthi Yaman mengganggu jalur pelayaran utama lainnya di kawasan tersebut.

Dikutip dari Investing, Senin, 14 September 2026, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,55 persen ke level 7.685,75 poin. Kontrak berjangka Nasdaq 100 turun 1,2 persen ke level 29.321,0 poin. Sementara kontrak berjangka Dow Jones turun 0,28 persen ke level 52.856,0 poin.

Penurunan kontrak berjangka ini terjadi setelah sesi perdagangan Jumat yang positif di Wall Street. Pasar sempat menyambut baik penurunan harga minyak, yang mengalami aksi ambil untung setelah kenaikan tajam pekan lalu. Namun, harga minyak kembali melonjak mendekati level tertinggi baru-baru ini pada Minggu malam.

Fokus minggu ini tertuju sepenuhnya pada pertemuan Federal Reserve, yang semakin banyak pihak meyakini bank sentral akan menaikkan suku bunga setidaknya sebesar 25 basis poin.

Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga juga menjadi faktor utama yang membebani Wall Street, terutama setelah rilis data inflasi produsen dan konsumen yang menunjukkan angka cukup tinggi pekan lalu.


(Ilustrasi. Foto: iStock)

Dukungan perlambatan laju pengembangan AI

Sektor teknologi diperkirakan akan mencatat kinerja terburuk pada Senin setelah tokoh-tokoh utama industri AI, terutama CEO OpenAI Sam Altman dan bos Tesla Elon Musk, menyatakan dukungan terhadap seruan untuk memperlambat laju pengembangan teknologi tersebut.

Keduanya mendukung seruan CEO Anthropic, Dario Amodei, untuk langkah tersebut, setelah ia mengusulkan rencana menyeluruh guna menetapkan lebih banyak praktik keselamatan dalam pengembangan AI.

Secara terpisah, CEO agregator AI Hugging Face, Clement Delangue, dan pimpinan Google DeepMind, Demis Hassabis, juga mendukung rencana Amodei. Seruan Amodei muncul menyusul beberapa insiden peretasan besar yang diduga dilakukan oleh agen AI.

Namun, perlambatan pengembangan AI menjadi pertanda buruk bagi pasar saham, mengingat lonjakan valuasi bernilai triliunan dolar yang didorong oleh AI selama empat tahun terakhir. Beberapa raksasa Wall Street memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap AI.

Eskalasi di Timur Tengah buat Wall Street khawatir

Harga minyak melonjak tajam pada Minggu malam atau Senin dini hari setelah kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran menyerang lebih banyak target di Arab Saudi selama akhir pekan.

Kelompok tersebut juga berhasil menguasai posisi strategis di sepanjang Selat Bab el-Mandeb, sebuah perkembangan yang mengisyaratkan kembali terjadinya gangguan pelayaran di Laut Merah. Tindakan Houthi dapat memangkas tambahan 4-5 persen pasokan minyak global, mengingat Selat Bab el-Mandeb juga merupakan jalur pasokan alternatif selain Selat Hormuz.

Selat Hormuz masih tertutup di tengah berlanjutnya aksi militer antara AS dan Iran selama akhir pekan. Secara terpisah, Oman menyatakan pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz telah ditunda tanpa batas waktu, setelah sebelumnya dijadwalkan pada Senin.

Harga minyak melonjak setelah mencatatkan kenaikan signifikan pekan lalu, membuat pasar tetap waswas terhadap inflasi yang dipicu oleh harga energi serta dampaknya terhadap suku bunga.

(Eko Nordiansyah)